Kamis 23 Sep 2021 21:26 WIB

Ekspor Terhambat, Pengusaha Sarang Burung Walet Ngadu ke KSP

Pengusaha sarang burung walet mengadu ke KSP

Ekspor sarang burung walet dihambat/Seorang pekerja menyortir sarang burung walet untuk diekspor di Medan, Sumatera Utara, Selasa (10/3/2020).
Foto: Antara/Septianda Perdana
Ekspor sarang burung walet dihambat/Seorang pekerja menyortir sarang burung walet untuk diekspor di Medan, Sumatera Utara, Selasa (10/3/2020).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah perwakilan pengusaha lokal eksportir sarang burung walet mengadukan hambatan yang dialami dalam mengekspor produk ke China, kepada Kantor Staf Presiden, di Gedung Bina Graha, Jakarta, Kamis (23/9).

Kepada Kepala Staf Kepresidenan RI Moeldoko, perwakilan pengusaha sarang burung walet dari Sumatera Utara, Kalimantan, Jawa Timur, dan Jabodetabek mengungkapkan ekspor sarang burung walet masih terkatung-katung akibat masalah regulasi internal dan eksternal di China.

"Semua persyaratan harus mereka yang audit mulai dari hulu ke hilir. Mereka juga yang menetapkan kuota. Saya sudah minta tambahan kuota sejak tiga tahun lalu, sampai sekarang juga belum ada hasil," ungkap perwakilan eksportir sarang burung walet asal Jawa Timur, Lusiyanto Handoko, sebagaimana siaran pers KSP yang diterima di Jakarta.

Untuk diketahui, China merupakan konsumen terbesar sarang burung walet secara global. Ekspor sarang burung walet Indonesia ke China sepanjang 2020 mencapai 413,6 juta dolar AS. Pada April 2021, Indonesia mengumumkan bahwa China akan mengimpor sarang burung walet asal Indonesia senilai 1,13 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 16 triliun.

Lusiyanto Handoko menyampaikan, sejauh ini terdapat 23 perusahaan yang mendominasi ekspor sarang burung walet. Perusahaan itu terdaftar di General Administration Customs of China (GACC).Sedangkan 20 perusahaan lainnya belum memiliki legalitas resmi sebagai eksportir terdaftar, padahal mereka sudah mendaftar dari tahun 2018 dan sudah diaudit oleh GACC.

Handoko menilai, perlu adanya campur tangan KSP untuk menfasilitasi proses negosiasi dengan pihak GACC, agar pelaku eskspor sarang burung walet mendapatkan sertifikasi sebagai eksportir terdaftar di Negeri Tirai Bambu tersebut.

"Di tengah sulitnya perekonomian akibat pandemi COVID-19 seperti sekarang ini, pemerintah melalui KSP harus membuat terobosan kunci untuk menghilangkan hambatan ekspor, agar potensi devisa yang sangat besar dari ekspor sarang burung walet bisa ditingkatkan," ujar Handoko.

Sementara itu Kepala Staf Kepresidenan RI Moeldoko menegaskan, persoalan ekspor sarang burung walet ke China sudah menjadi perhatian Presiden Joko Widodo.

"Presiden pada Rapat Terbatas 4 Mei 2021, sudah memberikan arahan pada Kementerian terkait, agar hambatan ekspor sarang burung walet ke China segera dituntaskan," ucap Moeldoko.

Dia menyampaikan, KSP sebelumnya juga sudah berkoordinasi lintas sektoral dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, dan Kedutaan Besar Indonesia di RRC, untuk ikut mendorong penyelesaian masalah ekspor sarang burung walet ke China.

KSP menilai, sudah waktunya negosiasi dengan China diperkuat, mengingat posisi Indonesia saat ini menjadi mitra strategis, dan tidak seharusnya China menghambat ekspor sarang burung walet, yang berpotensi besar menambah devisa negara.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement