Sunday, 28 Syawwal 1443 / 29 May 2022

Sekolah di Bandung yang Langgar Prokes akan Ditutup

Rabu 22 Sep 2021 11:29 WIB

Rep: M Fauzi Ridwan/ Red: Friska Yolandha

Sejumlah siswa SMALB mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) di SLBN Cicendo, Jalan Cicendo, Kota Bandung, Senin (20/9). Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung menegaskan apabila terdapat sekolah yang melanggar ketentuan maka dipastikan ditutup.

Sejumlah siswa SMALB mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) di SLBN Cicendo, Jalan Cicendo, Kota Bandung, Senin (20/9). Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung menegaskan apabila terdapat sekolah yang melanggar ketentuan maka dipastikan ditutup.

Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Sejauh ini belum terdapat klaster Covid-19 di sektor pendidikan.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Sebanyak 2.000 lebih sekolah di Kota Bandung tengah menjalankan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas dengan protokol kesehatan dan persyaratan lainnya. Namun, di lapangan masih ditemukan kerumunan siswa atau orang tua yang sedang mengantar anak.

Pantauan di lapangan, siswa di salah satu sekolah di Kopo Cirangrang yang hendak pulang terlihat bergerombol saat keluar gerbang. Para pedagang kaki lima (PKL) yang tidak diperbolehkan berjualan terlihat berjualan.

Baca Juga

Sedangkan di salah satu sekolah yang berada di Kopo Immanuel terlihat kerumunan orang tua yang hendak mengantarkan anak ke dalam sekolah. Selain itu terdapat PKL yang berjualan.

Saat dikonfirmasi, Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana mengatakan pengawasan dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung. Ia menegaskan apabila terdapat sekolah yang melanggar ketentuan maka dipastikan ditutup.

"Prinsipnya kalau ada yang melanggar sekolah ditutup. Itu pengawasan dinas terkait," ujarnya kepada wartawan di Balai Kota Bandung, Rabu (22/9).

Ia menuturkan, sekolah-sekolah yang menggelar PTM terbatas telah diverifikasi terkait kesanggupan melaksanakan protokol kesehatan dan lainnya untuk meminimalisasi klaster. Yana memastikan bahwa sejauh ini belum terdapat klaster Covid-19 di sektor pendidikan.

"Alhamdulillah nggak ada klaster," katanya.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA