Friday, 16 Rabiul Awwal 1443 / 22 October 2021

Friday, 16 Rabiul Awwal 1443 / 22 October 2021

Wiku: Gelombang Kedua Bukan Hanya karena Varian Delta

Rabu 22 Sep 2021 06:07 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Agus Yulianto

Petugas kesehatan merawat pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Dr. Suyoto, Jakarta, Indonesia, Kamis, 29 Juli 2021. Indonesia mengalami gelombang kasus virus corona yang dahsyat, dipicu oleh varian delta mematikan yang pertama kali terdeteksi di India.

Petugas kesehatan merawat pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Dr. Suyoto, Jakarta, Indonesia, Kamis, 29 Juli 2021. Indonesia mengalami gelombang kasus virus corona yang dahsyat, dipicu oleh varian delta mematikan yang pertama kali terdeteksi di India.

Foto: AP/Tatan Syuflana
Gelombang baru bisa terjadi karena virus butuh waktu menularkan dari orang ke orang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gelombang kedua penularan Covid-19 di Indonesia yang terjadi beberapa waktu lalu disebabkan banyak faktor. Masuknya varian delta dari India bukan satu-satunya penyebab terjadinya gelombang kedua.

Meskipun, kata juru bicara pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito, berdasarkan penelitian varian delta bersifat lebih menular dari varian aslinya. "Terjadi gelombang ke-2 di Indonesia tidak semata-mata terjadi karena kekuatan infeksius dari delta. Namun, juga akibat kepatuhan protokol kesehatan yang menurun," ujar Wiku dalam konferensi pers secara daring, Selasa (21/9).

Wiku mengatakan, peningkatan kasus Covid-19 pada Juli lalu tidak bisa dipungkiri juga berkaitan dengan interaksi antar manusia yang mulai longgar terhadap protokol kesehatan. Hal ini ditambah dengan adanya periode libur panjang dan kegiatan sosial ekonomi masyarakat.

Wiku mengatakan, ini tampak dengan adanya jeda antara kemunculan varian yang masuk ke suatu daerah dan kenaikan kasus yang menjadi gelombang baru.

"Gelombang baru bisa terjadi karena butuh waktunya untuk virus menular dari satu orang ke orang lain dan akhirnya terakumulasi menjadi kumpulan kasus dengan varian yang sama," kata Wiku.

Oleh karena, kata Wiku, kecepatan dan menyeluruhnya kebijakan menjadi kunci penting untuk menentukan efektifnya kebijakan pengendalian Covid-19. Antara lain pembatasan kegiatan masyarakat, penerapan protokol kesehatan dan vaksinasi untuk melakukan pengendalian kasus Covid-19 di Tanah Air.

Sebab, pembatasan perjalanan dan aktivitas masyarakat secara spesifik dapat menunda lonjakan kasus akibat importasi kasus dengan varian baru. Selain itu, perlu juga terus ditingkatkan testing, tracing dan treatment.

"Kita harus mengetahui pula bahwa dalam mencegah lonjakan kasus berbagai upaya pengendalian harus dilakukan sebagai bentuk penerapan kebijakan berlapis," ungkapnya.

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA