Friday, 28 Rabiul Akhir 1443 / 03 December 2021

Friday, 28 Rabiul Akhir 1443 / 03 December 2021

Erdogan: Turki Berperan dalam Perang Lawan Islamofobia

Senin 20 Sep 2021 13:37 WIB

Rep: Fergi Nadira/Dwina Agustin/ Red: Nur Aini

 Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

Foto: Kepresidenan Turki via AP
Erdogan mencatat Islamofobia telah berubah menjadi tren yang mengganggu kehidupan.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, bahwa negaranya mengambil peran utama dalam berperang melawan Islamofobia di komunitas internasional. Hal itu ia sampaikan pada kesempatan pertemuan yang diselenggarakan oleh Komite Pengarah Nasional Amerika Turki di New York City, Ahad (19/9) waktu setempat.

"Kami berjuang melawan virus yang lebih mematikan dan licik. Virus ini, yang sama berbahaya dengan virus corona disebut Islamofobia," ujar Erdogan seperti dikutip laman Anadolu Agency, Seni (20/9).

Baca Juga

"Virus ini menyebar sangat cepat di negara-negara yang selama bertahun-tahun memerankan tempat lahir demokrasi dan kebebasan," ujarnya menambahkan.

Erdogan mencatat bahwa Islamofobia telah berubah menjadi tren yang mengganggu kehidupan sehari-hari umat Islam. Itu pun sangat mengancam perdamaian sosial.

Dia mengutip Organisasi Islam dan PBB, di mana Turki telah bekerja dalam upaya melawan Islamofobia. "Kami juga mendukung segala upaya untuk menghilangkan semua ancaman terhadap agama kami dan saudara-saudara Muslim kami," kata presiden.

Dia juga menyerukan dukungan dari Muslim Amerika dalam perjuangan Turki. Erdogan telah tiba di New York untuk menghadiri sesi ke-76 Sidang Majelis Umum PBB. Dia dijadwalkan berpidato pada Selasa (21/9) waktu setempat.

Sebelum pidatonya di Majelis Umum, Erdogan menyempatkan mengunjungi Pusat Turkevi yang akan segera dibuka yang terletak di 821 First Avenue di Manhattan di seberang markas besar PBB. Dia mengatakan gedung pencakar langit 36 lantai itu adalah monumen kebanggaan yang akan berfungsi tidak hanya sebagai rumah bagi orang Turki tetapi juga bagi komunitas Muslim Amerika.

Bangunan yang menggunakan motif arsitektur tradisional Turki, terutama dari Kekaisaran Seljuk, menjulang ke langit dalam bentuk bunga tulip dan dapat dilihat dari pusat kota Manhattan, East River, dan Long Island. Gedung dirancang sebagai gedung pencakar langit simbolis yang akan menambah cakrawala New York, salah satu kota paling ikonik di dunia, dan mencerminkan budaya, sejarah, dan keragaman Turki.

Pada kesempatan itu, Erdogan juga menyinggung kelompok teror seperti PKK, YPG dan Organisasi Teroris Fethullah (FETO). Dia meminta anggota komunitas Amerika Turki untuk terus memberi tahu rekan-rekan Amerika mereka tentang wajah sebenarnya dari organisasi teror ini.

"Tidak peduli seberapa besar itu, tidak ada kebohongan yang dapat melawan matahari kebenaran," kata Erdogan, dan menyoroti persatuan melawan kelompok-kelompok teroris. Menyoal FETO, Erdogan menegaskan bahwa kelompok itu adalah kelompok teror berdarah yang menyembunyikan wajah gelapnya dengan kedok penipuan.

FETO dan pemimpinnya yang berbasis di AS Fetullah Gulen mengatur kudeta yang gagal pada 15 Juli 2016 di Turki di mana 251 orang tewas dan 2.734 terluka. Ankara menuduh FETO berada di belakang kampanye jangka panjang untuk menggulingkan negara melalui infiltrasi ke lembaga-lembaga Turki, khususnya militer, polisi, dan peradilan.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA