Sabtu 18 Sep 2021 11:30 WIB

Waktu Kerja Berlebih Jadi Faktor Kematian Terbesar di Dunia

Salah satu faktor penyebab kematian adalah waktu kerja berlebih.

Rep: Puti Almas/ Red: Muhammad Hafil
Waktu Kerja Berlebih Jadi Faktor Kematian Terbesar di Dunia. Foto: Bekerja lembur (ilustrasi)
Foto: PxHere
Waktu Kerja Berlebih Jadi Faktor Kematian Terbesar di Dunia. Foto: Bekerja lembur (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JENEWA — Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa waktu atau jam kerja yang berlebihan menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. 

Penelitian yang dilakukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Buru Internasional (ILO) memperkirakan hampir dua juta orang per tahun meninggal karena penyakit dan cedera terkait pekerjaan. Hal itu tentu sangat mengejutkan, mengingat pada dasarnya risiko dapat dicegah dengan langkah-langkah kesehatan dan keselamatan yang tepat. 

Baca Juga

“Lebih dari 80 persen kematian terkait pekerjaan disebabkan oleh penyakit tidak menular, secara khusus adalah penyakit kardiovaskular dan pernapasan, yang disebabkan oleh atau diperburuk oleh faktor-faktor di tempat kerja,” ujar sekretaris jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dilansir VOA, Sabtu (18/9). 

Tedros mengatakan bahwa jam kerja yang panjang adalah satu-satunya pekerjaan yang paling mematikan. Ia menyebut bahwa hal ini menjadi faktor risiko utama yang tercatat menyebabkan 750.000 kematian setiap tahunnya di seluruh dunia. 

Studi yang dolakukan WHO dan ILO mempertimbangkan 19 faktor risiko pekerjaan, termasuk paparan jam kerja yang panjang, paparan polusi udara di tempat kerja, serta karsinogen dan kebisingan. Sebagian besar kematian atau sekitar 80 persen  disebabkan oleh penyakit tidak menular akibat kerja, sementara 20 persen sisanya disebabkan oleh kecelakaan kerja.

Frank Pega sekalu Pejabat Teknis WHO, Departemen Lingkungan, Perubahan Iklim dan Kesehatan mengatakan diantara pekerja yang paling berisiko adalah laki-laki dan orang berusia di atas 54 tahun. Ia juga menuturkan bahwa sejumlah besar kematian terkait pekerjaan terjadi di Afrika, Asia Tenggara dan Pasifik Barat.

“Di wilayah tersebut, kita juga dapat mengatakan bahwa negara berpenghasilan rendah dan menengah lebih terpengaruh daripada negara berpenghasilan tinggi,” jelas Pega. 

Lebih lanjut, Pega mengatakan pekerja yang paling memiliki risiko tersebut adalah berasal dari bidang ekonomi informal. Hal itu karena mereka harus bekerja di sektor yang memiliki perlindungan yang lebih sedikit dan terpapar lebih banyak faktor risiko pekerjaan.

Laporan tersebut menempatkan Korea Utara (Korut) sebagai negara dengan beban kematian terkait pekerjaan terbesar, rata-rata 79,5 kematian per 100.000 penduduk usia kerja 15 tahun ke atas. Selanjutnya diikuti oleh Indonesia dan Nepal, serta di urutan keempat dengan 43,7 kematian per 100.000 pekerja berasal dari Bangladesh dan India.

Studi ini tidak memasukkan data tentang dampak kematian terkait pekerjaan akibat infeksi virus corona jenis baru (COVID-19) yang menjadi pandemi dunia saat ini, di mana banyak pekerja dari berbagai sektor memiliki risiko karena tetap harus melakukan pekerjaan mereka.

Sumber:

https://www.voanews.com/a/study-shows-overwork-can-kill-you-literally-/6233120.html

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement