Monday, 2 Jumadil Awwal 1443 / 06 December 2021

Monday, 2 Jumadil Awwal 1443 / 06 December 2021

Inggris Lakukan Studi Campuran Vaksin Covid-19 pada Anak

Sabtu 18 Sep 2021 05:49 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Nur Aini

Vaksin Covid-19 (ilustrasi)

Vaksin Covid-19 (ilustrasi)

Foto: Pxhere
Peneliti akan melihat tanggapan kekebalan anak dan risiko peradangan jantung

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Para peneliti di Inggris tengah melakukan studi kepada remaja dengan memberikan dosis campuran vaksin Covid-19. Mereka akan melihat tanggapan kekebalan mereka terhadap dosis yang berbeda itu demi menentukan pendekatan terbaik untuk risiko kecil peradangan jantung.

 

Baca Juga

Penelitian, yang disebut Com-COV3, akan menguji jadwal vaksin yang berbeda pada anak berusia 12 hingga 16 tahun. Para peneliti itu ingin melihat respons imun dan efek samping yang lebih ringan.

"Kekhawatiran di sini adalah tentang risiko miokarditis, terutama dengan dosis kedua vaksin Pfizer pada laki-laki muda," ketua peneliti percobaan, Matthew Snape dari Oxford Vaccine Group, dilansir laman Reuters, Jumat (17/9). 

Dia mengatakan, uji coba akan memberi semua peserta dosis pertama vaksin Pfizer-BioNTech.  Itu akan diikuti delapan minggu kemudian dengan dosis penuh kedua atau setengah dosis suntikan Pfizer, dosis penuh vaksin Novavax (NVAX.O), atau setengah dosis suntikan Moderna (MRNA.O).

Penelitian itu merekrut 360 sukarelawan. Angka tersebut sebenarnya tidak cukup besar untuk secara langsung menilai risiko miokarditis dari kombinasi yang berbeda, yang disebut Snape adalah 1 dari 15.000 setelah dua dosis suntikan Pfizer pada remaja laki-laki. 

Remaja berusia 12-15 tahun di Inggris akan divaksinasi mulai pekan depan. Sementara mereka yang berusia 16-17 tahun telah memenuhi syarat untuk divaksinasi sejak Agustus.

Ketika anak-anak akan ditawari dosis pertama vaksin Pfizer-BioNTech (PFE.N), para pejabat menyarankan tentang dosis kedua akan diberikan di kemudian hari. Komite Bersama Inggris untuk Vaksinasi dan Imunisasi (JCVI) awalnya menolak untuk merekomendasikan suntikan untuk semua anak berusia 12 hingga 15 tahun. Alasannya tentang ketidakpastian atas dampak jangka panjang miokarditis yang merupakan efek samping yang jarang dari vaksin berbasis mRNA seperti Pfizer. 

Meskipun demikian, menurut para ahli kesehatan, kondisi jantung biasanya sembuh dengan sendirinya dengan konsekuensi jangka pendek yang ringan. Hong Kong telah menyarankan anak-anak hanya mendapatkan satu suntikan, karena kekhawatiran yang sama tentang peradangan jantung. 

Snape menjalankan penelitian lain vaksinasi campuran pada orang dewasa. Jeda vaksinasi itu empat pekan dan 12 minggu. Dia akan membandingkan tanggapan imunitas pada masing-masing kelompok. Snape menyebut hasilnya akan segera muncul. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA