Rabu 15 Sep 2021 17:25 WIB

Tantangan Wisata Halal: Dari Mindset Hingga Infrastruktur

Akses informasi masih harus dibenahi sehingga memberikan kenyamanan bagi wisatawan.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolandha
Jamaah berbuka puasa bersama di halaman Masjid Al-Hakim, Padang, Sumatera Barat, Kamis (15/4/2021). Pengembangan pariwisata halal atau wisata ramah Muslim di Indonesia masih mendapatkan banyak tantangan.
Foto: Antara/Iggoy el Fitra
Jamaah berbuka puasa bersama di halaman Masjid Al-Hakim, Padang, Sumatera Barat, Kamis (15/4/2021). Pengembangan pariwisata halal atau wisata ramah Muslim di Indonesia masih mendapatkan banyak tantangan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengembangan pariwisata halal atau wisata ramah Muslim di Indonesia masih mendapatkan banyak tantangan. Tantangan itu datang dari pola pemahaman masyarakat hingga ketersediaan infrastruktur yang memadai.

Pengamat Pariwisata, Ronald Rulindo, menjabarkan, tantangan utama untuk memahamkan pariwisata halal datang dari tingkat pemahaman masyarakat sendiri. "Jangankan bagi non-Muslim, kita yang sesama Muslim juga masih sering berbeda pendapat soal wisata halal," kata Ronald kepada Republika.co.id, Rabu (15/9).

Baca Juga

Ronald menegaskan, wisata halal semestinya dipahami sebagai wisata yang memudahkan umat Islam untuk berwisata. Sebagai contoh, mendapat kemudahan dalam mengakses tempat peribadatan ketika berwisata di suatu destinasi.

Lebih jauh, ia menilai, diperlukan adanya sertifikasi yang memastikan suatu produk halal untuk memberikan jaminan. Hal ini sebetulnya amat dibutuhkan bagi wisatawan mancanegara.

"Misal ketika kita di suatu daerah ingin makan makanan halal, mudahnya mencari masakan padang. Tapi bagi turis seperti dari Timur Tengah, mereka tidak paham itu. Ketika rumah makan padang ingin disertifikasi, merasa tersinggung karena sudah pasti makanan itu halal. Ini tantangannya," kata dia.

Tantangan selanjutnya, Ronald menyampaikan, infrastruktur untuk mendukung industri pariwisata halal juga butuh dukungan. Bukan hanya soal infrastruktur jalan, namun fasilitas-fasilitas mendasar yang menunjang kebutuhan Muslim.

Ia menilai, saat ini masih terdapat kesenjangan tinggi antara infrastruktur wisata halal di kota-kota besar dan daerah. "Misal di pusat perbelanjaan, tempat ibadah saat ini sudah bagus-bagus. Tapi di daerah belum tentu. Mungkin harus ke masjid, tapi masjid yang ada, toiletnya bermasalah. Ini juga masih jadi pekerjaan rumah," katanya.

Tantangan terakhir yakni soal pengemasan dan strategi promosi wisata halal itu sendiri. Ronald mencontohkan turis-turis timur tengah yang berwisata ke Malaysia sangat mudah memperoleh informasi seputar pariwisata. Sementara di Indonesia dengan wilayah yang sangat besar, akses informasi masih harus dibenahi sehingga memberikan kenyamanan bagi wisatawan.

"Baik dengan travel agent maupun sendiri, mereka mudah mendapatkan informasi. Di Indonesia, itu masih sulit," kata dia.

Sementara itu, pelaku usaha kuliner, sekaligus founder Temannya Wisatawan, Taufan Rahmadi, arah strategi dan promosi wisata halal harus difokuskan pada pemahaman layanan tambahan. Tak sebatas untuk wisatawan Muslim, tetapi juga bagi wisatawan non-Muslim yang membutuhkan.

Taufan pun menilai, pariwisata halal sejatinya juga sejalan dengan prinsip-prinsip keberlanjutan. "Sebab, esensi dari wisata halal itu termasuk sehat dan bersih," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement