Tuesday, 20 Rabiul Awwal 1443 / 26 October 2021

Tuesday, 20 Rabiul Awwal 1443 / 26 October 2021

Varian Mu dan Titik Jenuh Pandemi

Selasa 14 Sep 2021 09:31 WIB

Red: Joko Sadewo

Pengunjung menyantap makanan di sebuah kafe di Mal Central Park, Jakarta Barat, Selasa (24/8/2021). Selama masa PPKM level 3 di Jakarta, Pemerintah menyesuaikan operasional pusat perbelanjaan bisa dibuka hingga pukul 20.00 WIB dengan pembatasan 50 persen dari kapasitas serta restoran dapat menyelenggarakan makan di tempat dengan pembatasan 25 persen dari kapasitas atau maksimal dua orang per meja.

Pengunjung menyantap makanan di sebuah kafe di Mal Central Park, Jakarta Barat, Selasa (24/8/2021). Selama masa PPKM level 3 di Jakarta, Pemerintah menyesuaikan operasional pusat perbelanjaan bisa dibuka hingga pukul 20.00 WIB dengan pembatasan 50 persen dari kapasitas serta restoran dapat menyelenggarakan makan di tempat dengan pembatasan 25 persen dari kapasitas atau maksimal dua orang per meja.

Foto: ANTARA/Sigid Kurniawan/wsj.
Varian baru penyebab Covid, mu, muncul pada saat masyarakat sudah jenuh dengan PPKM.

Oleh : Muhammad Fakhruddin, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Pandemi Covid-19 di Tanah Air menunjukkan tanda-tanda melandai. Hal ini memunculkan optimisme masyarakat bahwa pandemi Covid-19 akan segera berakhir.

Rasa optimisme muncul seiring mulai dilonggarkannya pembatasan kegiatan masyarakat. Bahkan sejumlah objek wisata mulai dilakukan uji coba. Namun belum berakhir betul pandemi ini kini masyarakat mulai ditakutkan dengan varian baru SARS-CoV-2 bernama mu atau B.1.621.

Varian lain dari virus corona jenis baru ini telah diidentifikasi di Afrika Selatan. Saat ini, sejumlah penelitian menyebutkan bahwa ada kemungkinan bahwa varian ini lebih buruk dibandingkan delta yang pertama kali ditemukan di India dan dikenal sangat menular.

Kelompok Kerja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyatakan varian baru SARS-CoV-2 bernama mu atau B.1.621 tidak lebih ganas daripada varian delta.

Ketua Pokja Genetik FKKMK UGM dr Gunadi menjelaskan, varian mu oleh WHO dikategorikan dalam variant of interest (VoI) atau yang perlu mendapat perhatian, sedangkan varian delta masuk kategori variant of concern (VoC) atau yang perlu diwaspadai.

Meskipun varian baru ini belum terdeteksi di Indonesia, menurut dia, perlu diantisipasi karena varian mu diketahui menyebabkan penurunan kadar antibodi baik karena infeksi ataupun vaksinasi.

Ancaman varian mu seiring dengan meredanya pandemi varian delta di Tanah Air ini, membuat tingkat perhatian masyarakat terhadap virus varian baru ini menjadi rendah. Bahkan, masyarakat mulai menunjukkan gejala euforia terlihat dari mulai ramainya titik titik kerumunan masyarakat.

Masyarakat yang sudah berada di titik jenuh pandemi Covid-19 ini dikhawatirkan cenderung abai dengan kemungkinan munculnya gelombang ketiga Covid-19. Apalagi hingga saat ini masih ada sebagian masyarakat yang tidak percaya dengan Covid-19. Hal ini menjadi tantangan sendiri bagi penanganan Covid-19 di Tanah Air.

Selain mempercepat vaksinasi perlu juga untuk terus-menerus melakukan edukasi kepada masyarakat bahwa kehidupan setelah pandemi ini tidak kembali ke keadaan normal tapi menuju new normal. Masyarakat harus terbiasa dengan kebiasaan baru agar varian apa pun yang mengancam, tidak terlalu berdampak fatal.

Sehingga dengan sendirinya Covid-19 ini tidak lagi menjadi pandemi tapi menjadi endemi seperti wabah-wabah terdahulu yang kini sudah terkendali seiring dengan munculnya vaksinasi.

Selain itu, antisipasi pemerintah terhadap varian mu juga harus menyentuh substansi, yakni bagaimana mencegah kematian akibat Covid-19 yang sempat memuncak pada gelombang kedua Covid-19.

Hal inilah yang harus menjadi fokus bersama bagaimana meskipun kasus Covid-19 kembali meningkat tetapi tidak diikuti dengan peningkatan kasus kematian akibat Covid-19, bahkan harus diupayakan bagaimana agar warga yang terlanjur terpapar Covid-19 tidak berujung pada kematian.

Upaya pengendalian Covid-19 yang lebih menyentuh pada hal substanstif ini harus difokuskan pada perbaikan pelayanan kesehatan. Sehingga ketika gelombang ketiga benar-benar terjadi, fasilitas kesehatan di Tanah Air sudah benar-benar siap.   

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA