Tuesday, 3 Jumadil Awwal 1443 / 07 December 2021

Tuesday, 3 Jumadil Awwal 1443 / 07 December 2021

BI: Masih Ada Gap Usaha dan Keuangan Syariah

Senin 13 Sep 2021 16:37 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Ferry kisihandi

Model memperagakan busana Muslim pada malam puncak pergelaran Fashion Show Aceh Sharia Festival 2021 secara virtual di Banda Aceh, Aceh, Sabtu (7/8/2021). Kegiatan Aceh Sharia Festival 2021 yang digelar pemerintah Aceh bekerja sama dengan Bank Indonesia  itu bertujuan mendorong perkembangan usaha industri fesyen muslim dan perekonomian syariah secara global.

Model memperagakan busana Muslim pada malam puncak pergelaran Fashion Show Aceh Sharia Festival 2021 secara virtual di Banda Aceh, Aceh, Sabtu (7/8/2021). Kegiatan Aceh Sharia Festival 2021 yang digelar pemerintah Aceh bekerja sama dengan Bank Indonesia itu bertujuan mendorong perkembangan usaha industri fesyen muslim dan perekonomian syariah secara global.

Foto: ANTARA/Ampelsa
Masih terdapat usaha syariah yang berkembang namun belum dibiayai keuangan syariah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia (BI) Anwar Bashori menyebutkan, masih ada jarak atau gap antara keuangan syariah dengan usaha syariah. Hal itu karena, masih terdapat usaha syariah yang berkembang namun belum dibiayai keuangan syariah.

"Ini PR (pekerjaan rumah) kita bersama," ujarnya dalam dalam ''Kick Off Bulan Pembiayaan Syariah Road to 8th ISEF 2021'' yang digelar virtual, Senin (13/9). Ia menambahkan, kick off  ini mendorong bulan pembiayaan syariah sekaligus menjadi wadah perkenalan antara usaha syariah seperti pesantren dengan keuangan syariah. Hal itu dinilai bisa mengurangi gap antara usaha syariah dengan keuangan syariah.

Dirinya menyebutkan, ada beberapa peran ekonomi syariah dalam masa Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Di antaranya turut mengembangkan sektor pertanian dan industri halal yang masih tumbuh positif.

Anwar menegaskan, Indonesia berpotensi tumbuh pada dua sektor utama, yaitu makanan halal dan fashion. "Indonesia jadi pasar halal food terbesar di dunia, ini bisa subtitusi kurangi impor, lalu fashion dapat sampai dunia lain. Keduanya bisa bangun dengan ekosistem kita libatkan Islamic social finance," kata dia.

Ia melanjutkan, pembiayaan syariah pun terus dikawal, sebab pada 2020 tetap tumbuh positif sebesar delapan persen disaat pembiayaan bank konvensional terkontraksi. Sukuk global Indonesia juga paling besar yakni mencapai 21 miliar dolar AS.

"Green sukuk ritel kalau kita amati, kita yakini ekonomi dan keuangan syariah resilience," ujarnya. Anwar mengatakan, BI akan mendorong berbagai kolaborasi, program, serta strategi pengembangan keuangan syariah agar benar-benar bisa berkiprah.

Dirinya mengungkapkan, puncak Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) akan diadakan pada 25 sampai 30 Oktober mendatang. Diharapkan, festival itu dapat menjadi business linkage.

"Seluruh stakeholder kita undang," kata Anwar. Dijelaskan, tahun ini ISEF kedelapan kalinya digelar sejak 2014. Pertama sampai kelima kali, ISEF diadakan di Surabaya dan masih terbatas. Pada gelaran keenam dan ketujuh, barulah ISEF terbuka dan menjadi agenda syariah terbesar di Indonesia. Dirinya berharap, puncak ISEF nanti dapat memberi maslahat sekaligus membantu pemerintah yang sedang berjuang memulihkan ekonomi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA