Saturday, 5 Rabiul Awwal 1444 / 01 October 2022

Tragedi 9/11, Gus Yahya: Perkuat Tata Kelola Tatanan Dunia

Sabtu 11 Sep 2021 10:21 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Yahya Cholil Staquf, menilai konsensus menuju peradaban global yang harmonis bukanlah impian.

Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Yahya Cholil Staquf, menilai konsensus menuju peradaban global yang harmonis bukanlah impian.

Foto: Republika/Thoudy Badai
Konsensus menuju peradaban global yang harmonis bukanlah impian.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Yahya Cholil Staquf memandang perlu memperkuat pengelolaan tatanan dunia setelah peristiwa serangan teroris atas Gedung World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat, 11 September 2001.

Menurut Gus Yahya, sapaan akrabnya, untuk keperluan itu, salah satu cara yang harus dilakukan adalah dengan menjaga keutuhan negara-bangsa.

Baca Juga

"Negara-bangsa adalah fondasi tata dunia setelah Perang Dunia II yang menopang stabilitas dan keamanan global saat ini," kata Gus Yahya saat menjadi pembicara dalam peringatan 20 tahun serangan atas Gedung WTC yang diselenggarakan oleh Regent University, Virginia, Amerika Serikat, Kamis (9/9).

Menurut Gus Yahya, negara bangsa harus ditopang lewat tradisi keagamaan dan budaya lokal yang kokoh dari serangan ideologi-ideologi transnasional yang didasarkan pada identitas agama, etnik atau ras, maupun gagasan-gagasan sekuler.

"Ini krusial sekali karena senyawa antara negara-bangsa, tradisi keagamaan dan budaya lokal adalah satu-satunya struktur dasar yang tersedia dalam tata dunia saat ini untuk mengelola proses negosiasi global menuju peradaban yang harmonis," kata Gus Yahya dikutip dari siaran pers, Sabtu (11/9).

Menurut dia, melalui kecermatan dalam pola adaptasi terhadap globalisasi tersebut, tatanan dunia diyakini akan makin membaik. Sebaliknya, jika negosiasi ini gagal, ketegangan-ketegangan baru bisa saja tak terhindarkan.

Pada kesempatan itu, Gus Yahya juga menjelaskan potensi besar yang dimiliki Nahdlatul Ulama (NU) dengan tradisi keagamaan lokalnya yang kokoh serta bangsa Indonesia dengan visi Bhinneka Tunggal Ika dalam rangka membangun peradaban umat manusia.

Melalui tradisi keagamaan lokal dan visi bangsa itu, Gus Yahya menilai proses perwujudan konsensus menuju peradaban global yang harmonis bukanlah impian.

Gus Yahya diundang secara khusus oleh Regent University untuk berbicara pada pertemuan tingkat internasional yang membahas tentang pentingnya perdamaian global tersebut. 

Gus Yahya menyampaikan paparannya melalui rekaman video.Pembicara lain pada acara yang disiarkan secara internasional ini, antara lain mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo, pendiri Regent University Pat Robertson, tokoh-tokoh dari kalangan diplomatik, ahli dan pemegang wewenang militer, keamanan dan hukum, serta intelektual Amerika Serikat.

Dekan The Robertson School of Government di Virginia University Michele Bachmann yang memandu acara itu memberikan apresiasi atas pidato Gus Yahya. Bahkan, Bachmann menyebut Yahya sebagai suara Muslim terdepan dalam menghadapi ekstremisme. 

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA