Wednesday, 17 Syawwal 1443 / 18 May 2022

Pembicaran Biden-Xi Naikkan Tajam Harga Minyak

Sabtu 11 Sep 2021 08:53 WIB

Red: Didi Purwadi

Ilustrasi. Presiden AS Joe Biden dan pemimpin China Xi Jinping melakukan pembicaraan telepon.

Ilustrasi. Presiden AS Joe Biden dan pemimpin China Xi Jinping melakukan pembicaraan telepon.

Foto: AP/Andrew Harnik
Pembicaraan Biden-Xi meningkatkan harapan untuk perdagangan global yang lebih hangat.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Harga minyak naik tajam pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), menyusul pembicaraan Presiden AS Joe Biden dan pemimpin China Xi Jinping. Pembicaraan Biden-Xi disebut dapat memunculkan harapan perdagangan AS-China yang akan memberikan dorongan pada aset-aset berisiko.

Pasar minyak dan ekuitas mendapat dorongan dari berita pembicaraan telepon antara Presiden AS Joe Biden dan mitranya dari China Xi Jinping. Para analis menyebut pembicaraan itu meningkatkan harapan untuk hubungan yang lebih hangat dan lebih banyak perdagangan global.

 

"Panggilan telepon Biden-Xi memiliki efek yang sama pada pasar minyak seperti pada kelas aset lainnya," kata Jeffrey Halley, analis di broker OANDA.

Selain faktor Biden-Xi, tanda-tanda semakin ketatnya pasokan di Amerika Serikat sebagai akibat dari Badai Ida juga disebut ikut menaikkan harga minyak. Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November melonjak 1,47 dolar AS atau 2,3 persen, menjadi menetap di 72,92 dolar AS. Sebelumnya angkanya mencapai tertinggi 73,15 dolar AS per barel.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober bertambah 1,58 persen atau 2,3 persen, menjadi 69,72 dolar AS per barel. Untuk minggu ini, harga minyak mentah AS naik 0,6 persen, sementara minyak mentah Brent naik 0,4 persen.

Brent telah reli 41 persen sejauh tahun ini karena pengurangan pasokan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan beberapa pemulihan permintaan dari pandemi. Sekitar tiga perempat dari produksi minyak lepas pantai Teluk AS, atau sekitar 1,4 juta barel per hari, tetap terhenti sejak akhir Agustus. Jumlah itu kira-kira sama dengan yang dihasilkan anggota OPEC, Nigeria.

"Pasar kembali fokus pada situasi pasokan yang lebih ketat secara global, dan itu memberinya dorongan," kata Phil Flynn, analis senior di grup Price Futures di Chicago.

Sementara, China melepaskan minyak dari cadangan minyak strategisnya. Jumlahnya, tambah Flynn, lebih besar daripada mengimbangi pengurangan produksi di Teluk Meksiko.

 

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA