Friday, 26 Syawwal 1443 / 27 May 2022

Unicef: PJJ Buat Jutaan Anak Asia Selatan Alami Kemunduran

Jumat 10 Sep 2021 04:14 WIB

Rep: Shabrina Zakaria/ Red: Gita Amanda

Orang tua bisa mencegah Covid-19 pada anak (ilustrasi). Unicef menemukan ratusan juta anak-anak di Asia Selatan menderita karena sekolah mereka ditutup akibat Covid-19.

Orang tua bisa mencegah Covid-19 pada anak (ilustrasi). Unicef menemukan ratusan juta anak-anak di Asia Selatan menderita karena sekolah mereka ditutup akibat Covid-19.

Foto: www.freepik.com.
Pembukaan kembali sekolah yang aman harus menjadi prioritas utama bagi semua.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Unicef menemukan ratusan juta anak-anak di Asia Selatan menderita karena sekolah mereka ditutup akibat Covid-19. Mereka juga kekurangan perangkat online dan koneksi internet untuk bisa melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Dilansir dari Reuters pada Kamis (9/9), Badan Anak-anak PBB itu mengatakan, pihak berwenang harus memprioritaskan pembukaan kembali sekolah yang aman. Sebab, bahkan sebelum pandemi, hampir 60 persen anak-anak di wilayah padat penduduk tidak dapat membaca dan memahami teks sederhana pada usia 10 tahun.

Baca Juga

“Penutupan sekolah di Asia Selatan telah memaksa ratusan juta anak dan guru mereka untuk beralih ke pembelajaran jarak jauh di wilayah dengan konektivitas rendah dan keterjangkauan perangkat,” kata Direktur Regional Unicef untuk Asia Selatan, George Laryea-Adjei, Kamis (9/9).

“Bahkan ketika sebuah keluarga memiliki akses ke teknologi, anak-anak tidak selalu dapat mengaksesnya. Akibatnya, anak-anak mengalami kemunduran besar dalam perjalanan belajar mereka,” imbuhnya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Unicef di India, Maladewa, Pakistan dan Sri Lanka, penutupan sekolah yang berulang sejak tahun lalu, telah mempengaruhi 434 juta anak di Asia Selatan. Sementara, sebagian besar dari mereka belajar secara signifikan lebih sedikit dibandingkan dengan tingkat pra-pandemi.

Di India, 80 persen anak-anak berusia 14-18 tahun melaporkan tingkat pembelajaran yang lebih rendah daripada ketika secara tatap muka di sekolah. Di Sri Lanka, 69 persen orang tua dari anak-anak sekolah dasar mengatakan bahwa anak-anak mereka belajar kurang atau jauh lebih sedikit.

Di Pakistan, 23 persen anak kecil tidak memiliki akses ke perangkat apa pun untuk pembelajaran jarak jauh.  Di India, 42 persen anak-anak antara usia 6 dan 13 tahun melaporkan tidak ada pembelajaran jarak jauh selama penutupan sekolah.

“Pembukaan kembali sekolah yang aman harus dianggap sebagai prioritas utama bagi semua pemerintah,” kata George Laryea-Adjei.

Ahli epidemiologi dan ilmuwan sosial India, telah meminta pihak berwenang untuk membuka kembali kelas untuk semua anak. Dengan mengatakan manfaatnya lebih besar daripada risikonya, terutama karena anak-anak pedesaan yang miskin kehilangan pendidikan online.

Di Asia Selatan, dengan hampir 2 miliar orang, telah melaporkan lebih dari 37 juta infeksi Covid-19 dan lebih dari 523 ribu kematian.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA