Monday, 11 Jumadil Awwal 1444 / 05 December 2022

Harga Minyak Tergelincir Dipicu Kekhawatiran Permintaan

Rabu 08 Sep 2021 07:03 WIB

Red: Friska Yolandha

Pengapalan minyak (ilustrasi). Harga minyak kembali tergelincir pada akhir perdagangan Selasa (7/9), tertekan oleh dolar AS lebih kuat.

Pengapalan minyak (ilustrasi). Harga minyak kembali tergelincir pada akhir perdagangan Selasa (7/9), tertekan oleh dolar AS lebih kuat.

Foto: Pertamina
Dolar yang kuat membuat minyak lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Harga minyak kembali tergelincir pada akhir perdagangan Selasa (7/9), tertekan oleh dolar AS lebih kuat. Penurunan harga juga dipicu kekhawatiran tentang lemahnya permintaan di Amerika Serikat dan Asia, meskipun penutupan produksi yang sedang berlangsung di Pesisir Teluk AS membatasi kerugian.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober kehilangan 94 sen atau 1,4 persen, menjadi menetap di 68,35 dolar AS per barel dan menyentuh level terendah sesi di 67,64 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November turun 53 sen atau 0,7 persen, menjadi ditutup pada 71,69 dolar AS per barel setelah jatuh 39 sen sehari sebelumnya.

John Saucer, wakil presiden pasar minyak mentah di Mobius Risk Group di Houston, mengatakan dolar yang lebih kuat dan langkah Arab Saudi pada Ahad (5/9) untuk memangkas harga jual resmi (OSP) Oktober telah menekan minyak mentah. Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,32 persen menjadi 92,5126 pada akhir perdagangan Selasa (7/9), menyusul kenaikan 0,2 persen di sesi sebelumnya. Dolar yang kuat membuat minyak lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

"Orang-orang membaca perubahan harga Saudi sebagai tanda memudarnya permintaan Asia dan skala pemotongan lebih besar dari yang diperkirakan," kata Saucer.

Arab Saudi memangkas harga untuk semua kadar minyak mentah yang dijual ke Asia setidaknya 1 dolar AS per barel. Langkah tersebut, sebuah tanda bahwa konsumsi di wilayah pengimpor utama dunia tetap hangat, terjadi ketika penguncian di seluruh Asia untuk memerangi varian Delta dari virus corona telah mengaburkan prospek ekonomi.

Data yang dirilis pada Jumat (3/9) juga menunjukkan ekonomi AS pada Agustus menciptakan lapangan kerja paling sedikit dalam tujuh bulan, karena perekrutan di sektor pariwisata dan perhotelan terhenti di tengah kebangkitan infeksi COVID-19.

Namun, harga minyak mendapat dukungan dari indikator ekonomi China yang kuat dan berlanjutnya pemadaman pasokan AS akibat Badai Ida. Impor minyak mentah China naik 8,0 persen pada Agustus dari bulan sebelumnya, menurut data bea cukai. Sementara ekonomi China mendapat dorongan karena ekspor secara tak terduga tumbuh lebih cepat pada Agustus.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA