Monday, 19 Rabiul Awwal 1443 / 25 October 2021

Monday, 19 Rabiul Awwal 1443 / 25 October 2021

Maksud dari Berutang kepada Allah

Kamis 02 Sep 2021 16:43 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil

Maksud dari Berutang kepada Allah. Foto: Kubah masjid berlafaskan Allah (ilustrasi)

Maksud dari Berutang kepada Allah. Foto: Kubah masjid berlafaskan Allah (ilustrasi)

Foto: ANTARA
Ulama mencontohkan berutang kepada Allah.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Jika seorang hamba mau berutang, maka berutanglah kepada Allah Swt. Dengan demikian, Allah akan menanggungnya dan memikul bebannya. Karena itu, para ulama terdahulu banyak yang memilih berutang kepada Allah Swt, salah satunya adalah Abu Hasan Asy-Syadzili.

Abu Hasan Asy-Syadzili adalah pendiri Tarekat Syadziliyah yang merupakan salah satu tarekat sufi terkemuka di dunia. Ia dipercayai oleh para pengikutnya sebagai salah seorang wali dan keturunan Nabi Muhammad SAW yang lahir di desa Ghumarah, dekat kota Sabtah, daerah Maghreb pada tahun 593 H/1197 M.

Baca Juga

Dalam kitabnya yang berjudul Risalah al-Amin, Asy-Syadzili menjelaskan bahwa jika seorang hamba berutang dengan mengandalkan kemampuannya atau sesuatu yang diketahuinya, maka akan terasa berat baginya untuk menanggungnya.

Bahkan, menurut dia, bisa saja hamba tersebut meunda-nunda, menyia-nyiakan, membuatnya lama terbayar, mendahulukannya, mengakhirkannya, berbuat zalim dan berbohong, sehingga ia merugi dan tidak mendapatkan untung.

“Kemudian aku ditanya, lantas bagaimana caraku berutang kepada Allah?” ujar Asy-Syadzili seperti dikutip dari buku Risalah al-Amin: Wejangan yang Mengantarkan Kita Sampai Kepada-Nya terbitan Turos Pustaka, 2021.

Asy-Syadzili kemudian menjawab, “Dengan memutus diri dari seluruh arah, mencabut hati dari kebiasaan, serta menggantungkannya dengan Dzat yang memiliki bumi dan langit,” jelas Asy-Syadzili.

Lalu Asy-Syadzili mengajak untuk berucap, “Ya Allah, kepada-Mu aku berutang, dengan nama-Mu yang Engkau telah membawa (menanggung) apa yang aku bawa, kepada-Mu aku bertawakkal, kepada-Mu perkaraku aku kembalikan, kemudian aku letakkan. Aku berlindung kepada-Mu dari masuk ke dalam kawah kebodohan dan nafsu, aku berlindung kepada-Mu dari kebiasaan-kebiasaan, permusuhan, kotoran, dan perbuatan keji.”

Jika muncul sebuah penghalang yang diketahui, maka ia pun mengajak kepada seorang hamba untuk lari kepada Allah, seperti lari dari api neraka yang akan mengenai seorang hamba. Lalu ucapkanlah,

“Aku berlindung kepada-Mu dari neraka, dari amalnya ahli neraka, maka tolonglah aku dan ampunilah aku wahai Yang Mahakarsa, wahai Yang Maha Pengampun.”

“Ini semua adalah keajaiban-keajaiban yang ada dalam ilmu makrifat dan muamalah. Maka dari itu, jauhkan dari nafsumu dan serahkanlah pahalamu kepada Allah,” jelas Asy-Syadzili.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA