Friday, 19 Syawwal 1443 / 20 May 2022

Muhammadiyah Ingatkan PTM Dilaksanakan Penuh Kehati-hatian

Selasa 31 Aug 2021 17:01 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Muhammad Hafil

Muhammadiyah Ingatkan PTM Dilaksanakan Penuh Kehati-hatian. Foto: Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhamadiyah Abdul Muti menyampaikan orasi ilmiah saat sidang Senat terbuka Pengukuhan Guru Besar di Auditorium Harun Nasution Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Rabu (2/9). Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar sidang Senat terbuka pengukuhan Abdul Muti sebagai Guru Besar atau Profesor di Bidang Ilmu Pendidikan Agama Islam (PAI) mengangkat tema Pendidikan Agama Islam yang Pluralistis, Basisi Nilai dan Arah Pembaruan. Sidang tersebut dihadiri sejumlah tokoh yaitu mantan Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Saadi dan mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Republika/Thoudy Badai

Muhammadiyah Ingatkan PTM Dilaksanakan Penuh Kehati-hatian. Foto: Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhamadiyah Abdul Muti menyampaikan orasi ilmiah saat sidang Senat terbuka Pengukuhan Guru Besar di Auditorium Harun Nasution Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Rabu (2/9). Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar sidang Senat terbuka pengukuhan Abdul Muti sebagai Guru Besar atau Profesor di Bidang Ilmu Pendidikan Agama Islam (PAI) mengangkat tema Pendidikan Agama Islam yang Pluralistis, Basisi Nilai dan Arah Pembaruan. Sidang tersebut dihadiri sejumlah tokoh yaitu mantan Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Saadi dan mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Republika/Thoudy Badai

Foto: Republika/Thoudy Badai
Pelaksanaan PTM diimbau Muhammadiyah dilaksanakan penuh kehati-hatian.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Indonesia memutuskan wilayah dengan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) 1, 2, dan 3, diizinkan melakukan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Sejumlah sekolah pun mulai kembali melakukan aktifitasnya.

Dalam pelaksanaan PTM terbatas ini, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, mengingatkan agar dilakukan dengan penuh kehati-hatian, serta mematuhi segala protokol kesehatan (prokes).

Baca Juga

"Mungkin sekarang ini PTM sudah bisa dimulai dalam skala terbatas. Meskipun demikian PTM harus dilaksanakan sangat berhati-hati dengan memenuhi beberapa hal," kata dia saat dihubungi Republika, Selasa (31/8).

Beberapa ketentuan yang harus dipenuhi ini di antaranya adalah, sudah dalam kategori zona hijau atau kuning, diutamakan tenaga pendidik dan muridnya yang sudah vaksinasi, tetap mematuhi protokol kesehatan, serta durasi atau jam sekolah dapat dikurangi.

Ia menyebut, saat ini memang mulai muncul kekhawatiran dari berbagai pihak, akan terjadinya //learning lost//. Hal ini merupakan akibat dari pembelajaran daring yang tidak efektif.

"Banyak pihak mendesak agar mulai dilakukan pembelajaran tata muka (PTM)," ujarnya.

Di satuan pendidikan Muhammadiyah sendiri, ia menyebut beberapa sudah mulai menjalankan PTM terbatas. PTM ini tidak hanya berlaku untuk madrasah saja, tapi juga sekolah dan pesantren Muhammadiyah.

Terkait dengan respon wali murid akan dimulainya PTM terbatas, ia menyebut hasilnya bervariasi. Namun demikian, secara umum wali murid setuju dengan beberapa pemenuhan protokol kesehatan.

Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama, M Ishom Yusqi, menyampaikan uji coba penyelenggaraan PTM di madrasah sudah mulai dilakukan pada 10 Agustus. Hal ii merupakan upaya mempersiapkan PTM Terbatas di beberapa madrasah di setiap Provinsi.

"Prosentase madrasah yang telah melakukan uji coba PTM sekitar 18 persen madrasah yang tersebar di 34 provinsi," katanya kepada //Republika.co.id//, Ahad (29/8).

Uji coba PTM atau persiapan sebelum melaksanakan PTM Terbatas madrasah ini didasarkan pada Surat Edaran (SE) Dirjen Pendidikan Islam Kemenag pada 10 Agustus lalu.

SE tersebut dikeluarkan untuk menindaklanjuti kajian Satgas Covid-19 yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo dalam Rapat Kabinet Terbatas. Madrasah yang memiliki kesiapan belajar diprioritaskan melakukan uji coba PTM.

18 persen madrasah yang melakukan uji coba PTM hanya sebagai sampel sebelum memulai PTM Terbatas. Karena itu, dia menekankan, bukan berarti sisa dari 18 persen tersebut tidak memiliki kesiapan untuk melakukan PTM.

"Uji coba PTM berlangsung dua pekan, berakhir pekan ini. Senin (30 Agustus), sudah dimulai PTM Terbatas. Jadi besok akan banyak madrasah yang merealisasikan PTM Terbatas," lanjutnya. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA