Saturday, 5 Rabiul Awwal 1444 / 01 October 2022

Para Intelektual yang Dibesarkan di Bumi Afghanistan

Selasa 31 Aug 2021 14:00 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Afghanistn pernah menjadi pusat kota intelektualitas, Ilustrasi afghanistan

Afghanistn pernah menjadi pusat kota intelektualitas, Ilustrasi afghanistan

Foto: AFP
Afghanistn pernah menjadi pusat kota intelektualitas

REPUBLIKA.CO.ID, — Sebelum Islam masuk, masyarakat wilayah ini sebagian besar Buddha dan Zoroaster, ada penganut Hindu, Yahudi, dan lain-lain. Muslim Arab membawa Islam ke Herat dan Zaranj pada 642 M dan mulai menyebar ke timur.

Beberapa penduduk asli menerimanya, yang lain menolak. Kabul pertama kali di taklukkan 870 M. Dilaporkan, Muslim dan non-Muslim hidup berdampingan di Kabul sebelum Ghaznawi naik takhta pada abad ke-10.

Baca Juga

Pada abad ke-11, Mahmud dari Ghazni (971-1030 M) mengalahkan penguasa Hindu yang tersisa dan mengislamkan wilayah yang lebih luas. Mahmud membuat Ghazni menjadi kota penting dan melindungi para intelektual, seperti Al Biruni dan Ferdowsi. 

Abu Rayhan Al Biruni (973 –1050) adalah polymath selama zaman keemasan Islam. Al Biruni fasih dalam fisika, astronomi, juga menonjol sebagai sejarawan, sosiolog, dan ahli bahasa. Dia mempelajari hampir semua ilmu pada zamannya. 

Dia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Ghazni, Afghanistan modern. Pada 1017, dia melakukan perjalanan ke India dan me nulis salah satu epiknya berjudul Tarikh Al Hind. 

Ferdowsi (940-1025 M) adalah pujangga. Dia menulis Syahnameh (Kitab Para Raja) untuk Sultan Mahmud Ghaznawi. Menurut legenda, Sultan menawarkan sekeping emas untuk setiap bait yang ditulis. Ferdowsi menyelesaikan 60 ribu bait selama hampir 30 tahun. 

Pada 1219 M, Jenghis Khan menyerbu wilayah tersebut. Banyak penduduk setempat kembali ke perdesaan. Pada awal abad ke-16, Babur dari Ferghana merebut Kabul. 

Antara abad ke-16 dan 18, Khanat Uzbe kistan di Bukhara, Safawi Iran, dan Mughal India menguasai sebagian wilayah tersebut. Pada era Abbasiyah, mereka adalah Provinsi Khilafah, tetapi pascaruntuhnya Baghdad, memerdekaan diri dan saling bersaing. 

Luas Afghanistan modern 652.864 kilo meter persegi atau hampir seluas Kaliman tan. Penduduknya sekitar 33 juta orang. Namun, pendapatan per kapitanya hanya separuh Indonesia. Perang sipil dan campur tangan asing membuat negeri ini nyaris tidak membangun. 

Padahal di masa lalu, mereka memiliki il muwan hebat seperti Al Biruni. Banyak talenta sains Afghanistan memilih menjauh dari perang, menjadi diaspora di negara-ne gara yang damai dan kaya. 

Taliban harus membuktikan, mereka sungguh-sungguh menerapkan syariat Islam, termasuk terkait pendidikan bagi setiap Muslim dan Muslimat, dan menoleransi per bedaan pendapat dalam fikih dan sains. 

Dengan demikian, pada masa depan bumi Khurasan ini kembali menjadi teladan bagi dunia. Kalau itu tidak terbukti, ini membenarkan teori bahwa perginya Amerika Serikat sekadar alih strategi dari hardpower ke softpower (in telijen, diplomasi, teknologi, bisnis). 

Sebagaimana pada 1975, Amerika Serikat "kalah" secara militer dari komunis di Vietnam, tetapi 25 tahun setelahnya, "menang" secara ekonomi. Ekonomi Vietnam kini full kapitalis. 

 

*Naskah tayang Harian Republika karya FAHMI AMHAR, anggota Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE). 

sumber : Harian Republika
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA