Friday, 26 Syawwal 1443 / 27 May 2022

Jejak Budaya dan Seni Ottoman di Masjid Kamerun

Selasa 31 Aug 2021 07:47 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Ani Nursalikah

Jejak Budaya dan Seni Ottoman di Masjid Kamerun. Jamaah sholat di Masjid Agung di Kota Ngaoundere, Kamerun, 14 Juli 2021.

Jejak Budaya dan Seni Ottoman di Masjid Kamerun. Jamaah sholat di Masjid Agung di Kota Ngaoundere, Kamerun, 14 Juli 2021.

Foto: Anadolu Agency
Kota Ngaoundere di Kamerun memiliki 85 persen penduduk Muslim.

REPUBLIKA.CO.ID, NGAOUNDERE -- Masjid-masjid di kota Ngaoundere, pusat administrasi Adamawa, Kamerun menarik perhatian dengan detailnya yang memuat jejak arsitektur dan seni Ottoman. Kota Ngaoundere memiliki 85 persen penduduk Muslim dan merupakan salah satu kota yang memiliki jumlah masjid terbanyak di benua Afrika dengan hampir 100 masjid.

Meskipun Kekaisaran Ottoman tidak pernah datang ke Kamerun, budaya dan arsitektur Islam yang dibawanya ke Nigeria menyebar sampai ke Ngaoundere dan masih tetap hidup sampai sekarang. Koordinator Layanan Keagamaan Kedutaan Besar Turki di ibu kota Yaounde, Kamerun, Hamza Yildrim memberikan informasi tentang jejak Utsmaniyah di masjid-masjid Ngaoundere. Dia mengatakan Ottoman dan bendera Turki adalah simbol agama di Kamerun.

Baca Juga

“Sementara bulan sabit digunakan sebagai simbol Islam di Asia dan Eropa, bendera Ottoman dan Turki melambangkannya di sini,” kata Yildrim, dilansir Daily Sabah, Kamis (15/7).

Halaman luas dan kubah Masjid Ngaoundere adalah elemen penting yang mencerminkan pengaruh Ottoman. Selain detail arsitektural, beberapa elemen budaya Ottoman masih dapat dilihat di kota ini.

Misal, Cuma Selamlığı, sebuah tradisi yang dipraktikkan oleh para sultan Utsmaniyah dalam perjalanan mereka menuju sholat Jumat, masih dilakukan di Ngaoundere. Sejalan dengan upacara ini, Raja Ngaoundere Mohamadou Hayatou Issa melakukan sholat Jumat di Masjid Agung lalu pergi ke istananya, yang terletak di seberang masjid.

Selama di perjalanan, raja menyapa warganya. Kemudian upacara berlanjut di istana dan ada parade publik di depan raja.

Yildrim mengatakan upacara asal Utsmaniyah itu penting. Tidak hanya karena memiliki aspek keagamaan tapi juga karena memberikan kesempatan kepada orang-orang bertemu raja dan mendiskusikan masalah-masalah regional.

Dia menambahkan unsur-unsur budaya sering berkembang dengan kondisi daerah dan semangat mereka tidak pernah berubah. Contohnya Utsmaniyah menyampaikan khutbah dengan membawa pedang di daerah taklukan. Di Kamerun, pedang telah diganti dengan tongkat.

https://www.dailysabah.com/arts/cameroon-mosques-bear-traces-of-ottoman-art-culture/news

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA