Selasa 31 Aug 2021 07:45 WIB

Sistem Perawatan Kesehatan Afghanistan Hampir Runtuh

Sistem perawatan kesehatan Afghanistan berisiko runtuh setelah Taliban berkuasa

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih
Dalam bingkai yang diambil dari video ini, seorang pekerja medis merawat seseorang yang terluka dalam ledakan mematikan di bandara Kabul, di sebuah rumah sakit di Kabul, Afghanistan, Kamis, 26 Agustus 2021.
Foto: AP/AP
Dalam bingkai yang diambil dari video ini, seorang pekerja medis merawat seseorang yang terluka dalam ledakan mematikan di bandara Kabul, di sebuah rumah sakit di Kabul, Afghanistan, Kamis, 26 Agustus 2021.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Sistem perawatan kesehatan Afghanistan berisiko runtuh setelah Taliban mengambil alih negara dan donor asing berhenti memberikan bantuan. Donor internasional yang berhenti memberikan dukungan kepada Afghanistan termasuk Bank Dunia dan Uni Eropa.

“Salah satu risiko besar sdalah sistem kesehatan di sini runtuh karena kurangnya dukungan,” kata Filipe Ribeiro, perwakilan Afghanistan untuk Médecins Sans Frontires (MSF).

Baca Juga

"Sistem kesehatan di Afghanistan kekurangan staf, perlengkapan, dan dana selama bertahun-tahun. Dan risiko besar kekurangan dana ini akan berlanjut dari waktu ke waktu," kata Ribeiro menambahkan.

Ribeiro mengatakan MSF telah memasok perlengkapan medis sebelum Taliban mengambil alih Kabul. Namun MSF menghadapi masalah dengan pengiriman pasokan medis tersebut karena penerbangan yang terganggu dan perbatasan darat yang kacau.

Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan pada Senin (30/8) sebuah pesawat yang membawa 12,5 ton obat-obatan dan persediaan kesehatan telah mendarat di Mazar-i-Sharif, di Afghanistan utara. Ini merupakan pengiriman pertama sejak Taliban kembali berkuasa.

Baca juga : Kemenkes: Dugaan Data Informasi Bocor di Aplikasi eHAC Lama

Selama masa kekuasaannya dari 1996-2001, Taliban memiliki hubungan yang tidak baik dengan lembaga bantuan asing. Taliban mengusir lembaga bantuan asing termasuk MSF pada 1998.

Kali ini, Taliban menyebut akan menyambut donor asing dan melindungi hak-hak staf asing dan lokal. Menurut Ribeiro, sejauh ini Taliban telah memenuhi komitmennya.

“Mereka sebenarnya meminta kami untuk tetap tinggal,dan mereka meminta kami untuk tetap menjalankan operasi kami seperti sebelumnya," jelas Ribeiro.

 

Kepala Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Afghanistan (IFRC), Necephor Mghendi, menerangkan sistem perawatan kesehatan Afghanistan sebelumnya sudah rapuh dan sangat bergantung pada bantuan asing. Kini setelah Taliban mengambil alih Kabul maka sistem perawatan kesehatan telah mengalami tekanan tambahan.

“Kebutuhan kemanusiaan di lapangan sangat besar,” kata Mghendi.

Mghendi mengatakan penutupan bank-bank Afghanistan berdampak pada semua lembaga kemanusiaan. Mereka tidak dapat mengakses dana, membuat vendor, dan membayar gaji staf. Hal lain yang sangat mendesak adalah persediaan peralatan medis dan obat-obatan yang semakin menipis.

“Pasokan yang seharusnya bertahan selama tiga bulan tidak akan bisa bertahan. Kami mungkin perlu menambah pasokan lebih awal,” kata Mghendi.

Baca juga : Jokowi Perintahkan Vaksinasi Masif Bagi Siswa dan Santri

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement