Friday, 2 Zulhijjah 1443 / 01 July 2022

Cara Fashion Muslim Ekspansi untuk Bertahan Saat Pandemi

Senin 30 Aug 2021 16:11 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolandha

Model memperagakan busana muslim di Banda Aceh, Aceh, Sabtu (7/8). Industri fashion Muslim menangkap potensi bisnis di tengah pandemi Covid-19.

Model memperagakan busana muslim di Banda Aceh, Aceh, Sabtu (7/8). Industri fashion Muslim menangkap potensi bisnis di tengah pandemi Covid-19.

Foto: ANTARA/Ampelsa
Ekspansi jadi salah satu strategi bertahan di tengah lemahnya ekonomi masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Industri fashion Muslim menangkap potensi bisnis di tengah pandemi Covid-19. CEO PT Kals Corpora Indonesia, Haykal Kamil menyatakan adanya potensi yang besar bagi industri di tengah masa krisis. Hal tersebut karena permintaan masih cukup tinggi dari para konsumen.

Haykal mengatakan, ia menerapkan strategic collaboration untuk mempertahankan mereknya agar tetap berkelanjutan. Ia mengakui adanya penurunan bisnis yang signifikan di awal pandemi yang cukup sulit diatasi.

Baca Juga

"Anggaplah kita produksi hingga 100 ribu pakaian di awal tahun, karena pandemi hanya terserap 20 ribu pakaian, itu juga belum dibayar," katanya dalam Webinar Muharram Marketing Festival 2021 yang digelar MarkPlus Islamic dengan tema Menakar Dinamika Pemasaran Islami Industri Fashion dan Kosmetik, Senin (30/8).

Ini membuatnya harus berinovasi agar tetap relevan dengan pasar. Ia pun menyiapkan ekspansi ke market-market yang berbeda melalui berkolaborasi dengan berbagai influencer dan memperkuat digital marketing.

Extraordinary menjadi kata yang digunakan Haykal dalam menggambarkan strategi kolaborasinya. Ia menggandeng tak hanya publik figur dengan beragam latar belakang, seperti Cut Meyriska, Ratna Galih, dan Marsha Natika, tapi juga kerja sama secara lintas industri seperti dengan Geprek Bensu, Glade, dan Maybelline.

Direktur Internasional dan Hubungan Antar Lembaga PT Soka Cipta Niaga, Helma Agustiawan juga menyebut ekspansi sebagai salah satu strategi bertahan di tengah lemahnya ekonomi masyarakat. Perusahaan yang awalnya hanya memproduksi aksesoris garmen muslim seperti kaus kaki, dan kaus tangan atau manset, juga merambah akhirnya ke produksi pakaian dalam hingga kain jenazah.

"Kami melakukan ekspansi itu, menyediakan produk-produk yang masih terus digunakan dan dampaknya sangat signifikan," katanya.

Selain meningkatkan variasi produk dan penetrasi pasar, perusahaan juga konsisten dalam berupaya menciptakan produk yang ramah lingkungan. Ia menyatakan tantangan pemasaran Islami tidak hanya dari sisi halal tapi juga harus eco-friendly.

Perusahaan juga selalu mengangkat kampanye halal untuk produk-produk premiumnya. Sehingga pendekatannya bukan halal dari sisi agama, tapi halal tentang higienitas, produk yang premium, dan ketenangan konsumen saat menggunakan produk.

Saat ini, PT Soka Cipta Niaga berupaya untuk memasuki pasar Afrika Barat, setelah berhasil merambah ke Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Selain memasarkan inner fashion untuk umat muslim perempuan, Soka juga memproduksi kaos kaki olahraga dengan ankle and knee support, sepatu, serta busana yang mendukung industri kesehatan di masa pandemi. Dengan kerja sama dengan tiga kementerian, Soka juga berhasil menjadi supplier untuk perusahaan pelat merah Kimia Farma untuk produk-produk kesehatan. 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA