Monday, 10 Muharram 1444 / 08 August 2022

KPAI: 88 Persen Peserta Didik Bersedia Divaksinasi

Senin 30 Aug 2021 15:51 WIB

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Friska Yolandha

Seorang siswa mengecek suhu tubuh sebelum mengikuti vaksinasi di SD Lentera Kampung Harapan, Kabupaten Jayapura, Papua, Jumat (27/8). Survei singkat yang dilakukan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan sebanyak 88 persen peserta didik menyatakan kesediaannya untuk divaksinasi.

Seorang siswa mengecek suhu tubuh sebelum mengikuti vaksinasi di SD Lentera Kampung Harapan, Kabupaten Jayapura, Papua, Jumat (27/8). Survei singkat yang dilakukan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan sebanyak 88 persen peserta didik menyatakan kesediaannya untuk divaksinasi.

Foto: ANTARA/Gusti Tanati/wpa/rwa.
Dari anak yang bersedia divaksin, 36 persen di antaranya sudah menerima vaksin.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Survei singkat yang dilakukan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan sebanyak 88 persen peserta didik menyatakan kesediaannya untuk divaksinasi. Dari jumlah tersebut, baru 36 persennya saja yang telah mendapatkan vaksin, sementara 64 persen lainnya belum.

"Dari 86.286 responden menyatakan kesediannya untuk divaksin dengan angka capaian hingga 88 persen, sedangkan yang ragu-ragu ada 9 persen, dan yang menolak divaksinasi hanya sekitar 3 persen responden saja," ungkap Komisioner KPAI, Retno Listyarti, pada rapat koordinasi nasional dengan pembahasan hasil pengawasan persiapan PTM terbatas dan program vaksinasi anak usia 12 sampai 17 tahun secara daring, Senin (30/8).

Baca Juga

Lebih lanjut Retno menyampaikan, dari yang menyatakan bersedia di vaksin tersebut, baru 36 persen di antaranya yang sudah mendapatkan vaksin. Sedangkan 64 persen di antaranya belum divaksinasi. Dari 64 persen yang belum divaksin itu, lebih dari setengahnya menyatakan belum mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan vaksin.

"Dari jumlah 64 persen yang belum divaksinasi tersebut, 57 persen responden menyatakan belum divaksinasi karena belum berkesempatan mendapatkan vaksin. Kemungkinan data ini menggambarkan, ada persoalan vaksinasi anak yang belum merata di berbagai daerah di Indonesia," jelas Retno.

Retno mengungkapkan, alasan para responden yang menyatakan bersedia divaksinasi itu hampir setengahnya, yakni 47 persen, karena ingin tubuhnya memiliki antibodi terhadap Covid-19 sehingga jika tertular gejalanya menjadi ringan. Kemudian 25 persennya menyatakan ingin memiliki kekebalan terhadap virus Covid-19.

Baca juga : KPAI: Kesiapan Sekolah Selenggarakan PTM Meningkat

"Dan 24 persen menyatakan agar segera dapat mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM), karena pembelajaran jarak jauh (PJJ) saat ini  dinilai kurang efektif, serta susah untuk dimengerti," kata dia.

Sementara dua persen di antaranya karena dibujuk orang tuanya dan merasa vaksinasi merupakan kewajiban. Lalu, 2 persen sisanya menjawab lainnya. Jawaban lainnya itu, seperti agar bisa bepergian ke mana saja dan ada yang menyatakan agar terus dapat bantuan sosial dari pemerintah.

Retno juga mengungkapkan, ada sejumlah alasan responden yang menyatakan tidak bersedia divaksinasi. Sebanyak 37 persen alasannya ialah karena khawatir pada efek vaksin. Sebanyak 15 persen responden menjawab mereka merasa tidak perlu divaksinasi, yang penting adalah menerapkan protokol kesehatan.

Lalu, alasan responden karena memiliki komorbid sehingga secara medis tidak bisa divaksinasi 10 persen, tidak yakin dengan merek vaksin tertentu delapan persen, yakin bahwa kalau anak terinfeksi Covid-19 gejalanya ringan bahkan kadang tidak bergejala 15 persen. Lalu, ada alasan divaksinasi juga tidak menjamin tidak tertular Covid-19 delapan persen dan tidak diijinkan orang tuanya untuk vaksin tujuh persen.

"Meskipun angka yang tidak bersedia divaksinasi hanya 3 persen dari 86.286 responden, namun hal tersebut tetap perlu menjadi pertimbangan untuk ditindaklanjuti pemerintah, misalnya melalui pendekatan berbasis sekolah/madrasah yang melibatkan pendidik di sekolah," kata dia.

Survei singkat tentang 'Persepsi Peserta Didik Terkait Vaksinasi Anak Usia 12-17 Tahun' dilakukan dengan menggunakan aplikasi google form diikuti oleh 86.286 responden. Para responden merupakan peserta didik dengan jenjang pendidikan SD/MI/SLB 10 persen, SMP/MTs/SLB 40 persen, MA/SMA/SMA/SLB 50 persen. Survei dilaksanakan pada 3-9 Agustus 2021 setelah sebelumnya dilakukan uji coba kuisioner pada 30-31 Juli 2021.

Baca juga : Kawal PON XX Papua, Polri Terjunkan Enam Kompi Brimob

Adapun asal daerah para partisipan berasal dari 34 provinsi di Indonesia, bahkan diikuti juga peserta didik dari Sekolah Indonesia Luar negeri (SILN), yaitu SILN  Singapura dan SILN Filipina. KPAI hanya akan menyampaikan beberapa temuan survei misalnya banyak responden anak dalam survei ini yang belum di vaksin karena belum ada kesempatan mereka mendapatkan vaksin anak.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA