Thursday, 14 Jumadil Awwal 1444 / 08 December 2022

Pashtun, Cina, Mesir:Perubahan Afghani, Tinjauan Antropologi

Rabu 25 Aug 2021 05:03 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Gadis Pasthun yang cantik. Pasthun adalah suku terbesar di Afghanistan.

Gadis Pasthun yang cantik. Pasthun adalah suku terbesar di Afghanistan.

Foto: Pinterest
Perubahan Afghani dilihat dari tinjauan antropologi dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ridwan Saidi, Budayawan dan Sejarawan Betawi

Mesir ramai pendatang, dan native (warga asli) yang disebut Egypt sekitar 10 persen saja. Maka Al Sisi ditampilkan gantikan Moorsi yang didukung mayoritas.

One China Policy maksudnya politik satu China, tidak ada China Taiwan.

Taiwan atau Formosa bukan China bukan Tiongkok bukan Tionghoa bukan Chinese. Native Formosa yang disebut Amis tergolong rumpun bangsa Micronesia. Ketika Chiang Kai Sek tahun 1949 lari ke Formosa lalu dirikan state (negara) dan pemerintahan di situ,  tetap tidak ubah hak historis orang-orang Amis sebagai penduduk asli. Soal ini tentu saja akan dapat gilirannya seperti istilah orang-orang Pashtun di Afganistan sekarang.

Taliban kemasan, Pashtun content ethnologis Taliban. Di Indonesia, baik yang girang dengan kemenangan Taliban maupun yzng ketakutan sama-sama melongok-longok kemasan saja tanpa mereka mengerti pergeseran paradigma politik luar negeri USA yang menitikberatkan pada pertimbangan etnografi daalm rekrutmen kepemimpinan politik lokal.

Dalam hari-hari ini anak-anak Pashtun riang gembira pergi ke sekolah. Bandingkan dengan anak-anak Indonesia yang masih harus di rumah. Dapat dipahami kalau Surya Paloh Nasdem dan Ahmad Muzani dari Partai Gerindra minta kopat-kopit diakhiri.

photo
Keterangan foto: Pasthun, suku mayoritas di Afghanistan - (wikipedia)
Tapi, Paloh dan Muzani mungkin sudah atau belum tahu, jangan-jangan kopat-kopit merupakan defence system yang mujarab untuk rezim.  Jangan-jangan ...?

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA