Sunday, 27 Zulqaidah 1443 / 26 June 2022

Kemendag Target 30 Juta UMKM Online Akhir 2023

Selasa 24 Aug 2021 12:24 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolandha

Perajin menyelesaikan pembuatan miniatur alat musik di rumah produksi Jhon’s Drum, Desa Rancapetir, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Rabu (18/8). Kementerian Perdagangan menargetkan transformasi digitalisasi 30 juta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pada akhir 2023.

Perajin menyelesaikan pembuatan miniatur alat musik di rumah produksi Jhon’s Drum, Desa Rancapetir, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Rabu (18/8). Kementerian Perdagangan menargetkan transformasi digitalisasi 30 juta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pada akhir 2023.

Foto: ANTARA/Adeng Bustomi
Dua kunci utama transformasi digitalisasi UMKM adalah kolaborasi dan inovasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Perdagangan menargetkan transformasi digitalisasi 30 juta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pada akhir 2023. Dengan platform digital, para pelaku UMKM memperluas pemasaran melalui e-commerce, memperkuat pasar di dalam negeri, serta meningkatkan daya saing produk.

Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, mengatakan, komitmen digitalisasi UMKM ini merupakan salah satu fokus Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI).

“Kementerian Perdagangan optimistis dapat mencapai target ‘onboarding’ 30 juta pelaku UMKM,” kata Lutfi dalam pernyataan resminya, Selasa (24/3).

Ia menjelaskan, proyeksi tersebut berdasarkan data dari Indonesian E-Commerce Association (idEa) yang menunjukkan hingga pertengahan Agustus 2021 lebih dari 14 juta pelaku UMKM atau sebesar 22 persen dari total UMKM seluruh Indonesia telah bergabung dan menggunakan aplikasi perdagangan elektronik. Menurutnya, angka itu cukup baik dan merupakan dampak dari Gernas BBI yang sudah dua tahun digencarkan.

Lutfi menegaskan, setidaknya ada dua kunci utama proses transformasi digitalisasi UMKM yaitu kolaborasi dan inovasi. Diperlukan sinergitas antara pemerintah, swasta, asosiasi, dan perbankan untuk membangun potensi ekonomi digital. Tujuannya untuk mewujudkan UMKM nasional yang tangguh, inovatif, dan berdaya saing di pasar global.

“Berbagai program stimulus untuk mendukung UMKM pun terus digenjot. Mulai dari akses pembiayaan yang inklusif, insentif perbankan seperti subsidi bunga kredit usaha rakyat (KUR), dan fasilitas kredit modal kerja. Tujuannya agar para UMKM dapat terus berjualan sehingga ikut menggerakkan roda ekonomi nasional,” kata dia.

Sementara itu, Lutfi mengatakan, UMKM Indonesia dituntut mampu beradaptasi dengan segala perubahan kemajuan teknologi digitalisasi dan memiliki kemampuan untuk membaca dan menganalisa tren dan perkembangan pasar dalam negeri dan global. UMKM Indonesia harus bisa secara terus menerus mengembangkan produk dengan keunikan dan keunggulan tersendiri sehingga dapat menciptakan produk yang unik dan berbeda dari produk UMKM negara lain.

"Dengan kolaborasi, inovasi, dan keterlibatan aktif seluruh komponen masyarakat, Pemerintah sangat optimistis dapat mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia untuk menjadi salah satu penggerak pertumbuhan perekonomian nasional," ujar Mendag.

Kementerian Perdagangan telah meluncurkan Gernas BBI sebagai salah satu upaya untuk memulihkan ekonomi nasional di masa pandemi Covid-19. Gernas ini bertujuan menjaga keberlangsungan usaha dan pemasaran UMKM. Hal itu dilakukan dengan melakukan transformasi pemasaran menggunakan platform transaksi digital agar produk UMKM lokal dapat dikenal luas. Selain itu, mendorong konsumen Indonesia untuk membeli produk lokal, serta bangga menggunakan produk Indonesia.

“Pemerintah melakukan langkah-langkah strategis dan bersinergi dengan para pemangku kepentingan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional agar tetap kondusif. Gernas BBI diharapkan memulihkan perekonomian Indonesia, membangkitkan semangat dan meningkatkan jiwa nasionalisme, serta meningkatkan rasa bangga terhadap produk buatan Indonesia,” ujar Lutfi.

Menurut Mendag, pada kuartal kedua tahun 2021, perekonomian Indonesia berangsur menunjukkan pemulihan yang signifikan. Pertumbuhan tercatat sebesar 7,07 persen year on year (yoy). Salah satu penyumbang terbesar berasal dari kinerja ekspor yang tumbuh 31,78 persen.

“Kondisi ini menggambarkan daya beli masyarakat mulai menggeliat kembali. Selain itu, kepercayaan para pelaku UMKM terhadap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah di masa pandemi Covid-19 juga semakin baik,” katanya. 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA