Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

AS tak Dapat Injak Kaki di Asia Tengah Saat Taliban Bangkit

Selasa 24 Aug 2021 08:24 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Bendera Rusia dan Amerika Serikat.

Bendera Rusia dan Amerika Serikat.

Foto: Euromaidan Press
Rusia dan China yang sebelumnya membantu AS di Asia Tengah tak lagi sejalan.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pengamat menilai militer Amerika Serikat (AS) tidak mungkin menginjakkan kaki di negara-negara Asia Tengah yang berbatasan dengan Afghanistan. Hal itu karena pemerintah dan tetangga adidaya mereka Rusia dan China sudah siap dengan kekuasaan Taliban.

Ketika pasukan AS menginvasi dan menggulingkan kekuasaan Taliban di Afghanistan pada tahun 2001 lalu, AS sempat mendirikan pangkalan sementara di Uzbekistan yang tutup pada 2005 dan di Kyrgyzstan yang tutup pada 2014. Kehadiran militer AS dibantu Rusia dan China untuk membantu misi Washington dan NATO.

Baca Juga

Dua puluh tahun kemudian sikap Rusia dan China pada Afghanistan tidak lagi sejalan dengan kepentingan strategis AS. Pakar Asia Tengah di University of Pittsburgh, Jennifer Brick Murtazashvili, mengatakan dua negara besar tidak bersedia ada militer AS di halaman belakang mereka.

"Anda dapat katakan Rusia mengizinkan AS untuk mendirikan pangkalan militer di Asia Tengah, saat perang berjalan, Rusia dan China frustasi langkah ini tidak bekerja dalam memerangi terorisme," kata Murtazashvili, dikutip Aljazirah, Selasa (24/8).

Saat kawasan Asia Tengah siap dengan mundurnya AS, Moskow terus meningkatkan pengaruh militer dan ekonomi di bekas negara-negara Uni Soviet. Hal itu terutama dengan Tajikistan dan Uzbekistan yang berada di tengah serta Turkmenistan yang berbatasan langsung dengan Afghanistan.

Dalam pertemuan daring Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO) Senin (23/8) kemarin Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Kyrgyzstan, Tajikistan, dan Kazakhstan yang mengikuti pertemuan ini, penting menahan tumpahnya 'Islam radikal' dari Afghanistan. Kelompok itu sepakat membentuk aksi gabungan terkoordinasi mengenai Afghanistan.

Sementara, Beijing memupuk pengaruh finansial di Asia Tengah melalui pinjaman dan Belt and Road Initiative yang mendorong Tajikistan dan Kyrgyzstan berutang sangat banyak. Sudah lama China khawatir gejolak di Afghanistan dan Asia Tengah dapat merembet ke wilayah bagian barat lautnya.

Baca juga : Taliban Berhadapan dengan Pasukan Massoud di Panjshir

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA