Monday, 17 Muharram 1444 / 15 August 2022

Komentari Wanita Afghanistan, Warganet Sebut Macron Munafik

Jumat 20 Aug 2021 20:42 WIB

Rep: Ratna ajeng tejomukti/ Red: Muhammad Hafil

Komentari Wanita Afghanistan, Warganet Sebut Macron Munafik. Foto:   Presiden Prancis Emmanuel Macron menghadiri upacara podium setelah etape kedelapan belas balap sepeda Tour de France sepanjang 129,7 kilometer (80,6 mil) dengan start di Pau dan finis di Luz Ardiden, Prancis, Kamis, 15 Juli 2021.

Komentari Wanita Afghanistan, Warganet Sebut Macron Munafik. Foto: Presiden Prancis Emmanuel Macron menghadiri upacara podium setelah etape kedelapan belas balap sepeda Tour de France sepanjang 129,7 kilometer (80,6 mil) dengan start di Pau dan finis di Luz Ardiden, Prancis, Kamis, 15 Juli 2021.

Foto: AP/Daniel Cole
Macron disebut munafik karena komentari wanita Afghanistan.

REPUBLIKA.CO.ID,PARIS -- Warganet menyebut Presiden Prancis Emmanuel Macron akibat pidatonya yang mendukung hak wanita Afghanistan untuk bebas dalam berpakaian. 

Nyatanya dia tidak memperlakukan wanita muslim di Prancis sesuai haknya. Karena dia melarang wanita muslim mengenakan jilbab dan cadar. 

Baca Juga

Dalam pidato yang disiarkan televisi awal pekan ini, Emmanuel Macron mengatakan bahwa wanita Afghanistan memiliki hak untuk hidup dalam kebebasan dan martabat.

Bagi dia, penafsiran Islam yang keras dan ekstrem dari Taliban berarti bahwa mereka sering memaksa wanita untuk mengenakan jilbab dan cadar yang menutupi seluruh wajah.

Namun, beberapa orang berpendapat bahwa Prancis memiliki kebijakannya sendiri terhadap wanita muslim, terutama mereka yang memilih untuk mengenakan cadar, yang pada gilirannya mengurangi suaranya untuk berbicara menentang praktik Taliban.

 "Tempat ini di mana wanita diperintahkan untuk mengenakan apa dan jika mereka tidak mematuhinya, mereka tidak dapat belajar atau bekerja dan bahkan dapat ditangkap disebut Prancis," kata seorang pengguna dalam komentar yang dibagikan secara online dilansir di trtworld.com.

Pengguna online lainnya  juga bereaksi terhadap standar ganda yang dirasakan dalam keprihatinan Prancis terhadap wanita Afghanistan,  mereka khawatir tentang pakaian wanita di Afghanistan. Sementara itu, Macron dan pemerintahnya telah membuat kebijakan bagi wanita muslim untuk tidak mengenakan gamis atau penutup kepala yang lebih panjang.

Pemerintah Prancis telah melarang gadis-gadis muda mengenakan  jilbab di sekolah-sekolah sejak tahun 2005. Ada juga upaya untuk melarang perempuan berjilbab di Prancis saat mengantar sekolah anak-anak mereka.

 "Perempuan Muslim bahkan tidak diizinkan untuk hidup damai dan bermartabat di Prancis. #Macron harus menjadi orang terakhir yang menceramahi #Afghanistan tentang hak-hak perempuan," kata salah satu pengguna media sosial setelah pernyataan presiden Prancis tentang perempuan Afghanistan. 

Perlakuan Taliban terhadap perempuan di masa lalu masih belum sebanding dengan apa yang dialami wanita muslim saat belajar dan bekerja di Prancis, diskriminasi di negara tersebut telah mengakibatkan banyak perempuan tersisih dari kesempatan. Baru-baru ini pengadilan tertinggi Uni Eropa memutuskan bahwa perempuan muslim dapat dipecat dari pekerjaan mereka karena menolak melepas jilbab.  

Selain itu, pengadilan memutuskan bahwa bisnis dapat melarang jilbab dipakai jika alasannya adalah untuk melindungi citra bisnis. Prancis juga melarang cadar yang menutupi seluruh wajah dikenakan oleh wanita muslim di ruang publik yang melihatnya sebagai bagian dari keyakinan agama mereka.  Wanita Muslim di Prancis dapat didenda dan bahkan penjara jika mereka mengenakan cadar jika mereka memilih untuk mengenakan cadar di depan umum.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA