Kamis 19 Aug 2021 18:59 WIB

"Pelaku UMKM tak Boleh Menyerah Karena Pandemi Covid-19"

Dasarnya jangan karena uang, tapi semangat bela negara.

Ilustrasi Kasus Covid-19 Naik
Foto: republika/mardiah
Ilustrasi Kasus Covid-19 Naik

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pandemi Covid-19 adalah bencana internasional yang membuat segala sendi kehidupan menjadi morat-marit, terutama dari sektor perekonomian. Namun dengan kondisi ini masyarakat jangan lantas berputus asa, tetapi harus semangat berusaha dan berjuang. Salah satunya dengan terus mengembangkan usaha mikro,kecil, dan menengah (UMKM).

"Sekarang ini kita tahu kondisi bangsa kita, bahkan seluruh dunia, kita semua harus berjuang. Bukan pemerintah saja, bukan pemimpin saja, tapi masyarakat juga harus berjuang. Itu adalah wujud bela negara bagi masyarakat,” ujar Direktur Bela Negara Direktorat Jenderal Potensi Keamanan (Dirjen Pothan) Kementerian Pertahanan (Kemhan) Brigjen Jubei Levianto di webinar “Ngopi Daring Bela Negara: UMKM Yuk Bisa Yuk!” beberapa waktu lalu.

Webinar itu menghadirkan narasumber dan bintang tamu seperti Tiktoker dan pengusaha cilok, Lukman Nurja, artis Bertrand Antolin, Kezia Warouw, dan founder Prakardus, Lukman Baehaqi, dengan moderator Ivan Kabul. Webinar digelar dalam rangka Hari UMKM yang jatuh tiap tanggal 12 Agustus.

Jubei menambahkan, pelaku UMKM tidak boleh menyerah karena pandemi Covid-19. Justru, mereka harus bisa berinovasi dan berkreasi agar bisa bertahan, bahkan bisa meraih kesuksesan yang luar biasa. Seperti usaha Lukman Nurja yang sukses berjualan cilok dengan memanfaatkan media sosial TikTok. Juga dengan Lukman Baehaqi dengan kreatifitasnya membuat mainan dari kardus.

“Dasarnya jangan karena uang, tapi semangat bela negara, semangat melawan pandemi. Itu bela negara Bung. Kalau kita pasrah dan hanya bisa meminta dan mengharap, pasti akan terpuruk. Tapi kalau didasari dengan semangat bela keluarga dan bela negara, semua bisa sukses,” kata Jubei.

Untuk itu, ia meminta semua pihak bisa bekerja sama dan bergotong royong, terutama untuk mengangkat UMKM di tengah pandemi ini. Ia optimistis bila semua mau berjuang, semua mau bekerjasama pasti ada solusi untuk membuat hidup yang lebih baik lagi.

“Kita semua gak mau ada pandemi, ini semua datang dari yang kuasa. Intinya kita lagi di coba sama yang kuasa. Mau berusaha gak, berjuang gak, yang pasrah akan mati, yang berjuang akan hidup. Contoh konkritnya teman-teman ini. Mereka pejuang UMKM,” ungkap Jubei.

TikTokers Lukman Nurja mengaku pandemi Covid-19 sangat berdampak pada usaha ciloknya. Awalnya ia mengaku mau menyerah dengan kondisi ini, tapi ia bersyukur bisa bertahan, bahkan bisnis ciloknya justru tambah pesat akhir-akhir ini, setelah ia mempromosikan ciloknya di platform TikTok.

“Pertama saya tidak boleh menyerah karena ada keluarga yang harus saya biayai. Dari situ saya berpikir dan berjuang. Dan hasilnya bisnis saya lancar dan followers saya terus nambah,” ujar Lukman.

Saat ini, Lukman mengaku tengah berencana mengembangkan usahanya dengan sistem franchise. “Saran saya buat UMKM, jangan pernah menyerah, tetap semangat walaupun di masa kayak gini. Yakin pandemi akan berakhir dan bisa survive agar bisa berbuat untuk bela negara,” katanya.

Sementara, Bertrand Antolin mengaku dibesarkan ibunya yang juga pelaku UMKM dengan berjualan pastel. Karena itu di tengah pandemi ini ia ingin berbuat sesuatu membantu pelaku UMKM memasarkan usahanya melalui media sosialnya. Bahkan itu sudah dia lakukan sejak 2018 lalu alias sebelum pandemi Covid-19.

“Saya ingin terima kasih dengan ibu saya, dengan memberikan kesempatan UMKM menggunakan medsos saya,” kata Bertrand.

Ia mengimbau pelaku UMKM untuk terus bersemangat dan berjuang. Selain itu, Bertrand juga mengajak rekan-rekannya sesama artis dan influencer untuk mendukung dengan membeli produk-produk UMKM.

"Kita para influencer bisa membantu dengan membeli produk UMKM. Itu bentuk dukungan kita. Paling penting kita harus beli," katanya.

Founder Prakardus Lukman Baehaqi mengaku sempat drop dihantam pandemi Covid-19. Beruntung di tengah keputusasaannya, ia mendapat pertolongan dari seorang guru yang membimbingnya tentang kiat-kiat berjualang, terutama melalui daring.

“Intinya untuk UMKM jangan berjualan hanya barang saja, tetapi harus ada value yang dijual. Seperti saya, bermodal hanya barang sepele seperti kardus yang semua orang punya dan ada dimana-mana, tapi karena saya jual tidak kardusnya, tapi value branding-nya. Dan ternyata pasarnya gede banget,” ungkapnya.

Ia mengaku sebelum pandemi, pendapatannya dari berkreasi dengan kardus hanya setara UMR. Tapi dengan value branding, saat ini ia mendapat pemasukan 50 kali lipat dari satu produk tiap hari.

“Artinya pandemi membawa berkah, berkat go digital. Ada strateginya, bukan hanya viral, tapi harus berpikir lima tahun ke depan tetap ada pasarnya, value itu harus kita pikirkan betul. Itu berkat ajaran dari seorang teman yang kenal dari media sosial itu. Jujur saya tidak pernah membayangkan bisa seperti sekarang,” kata Baehaqi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement