Kamis 19 Aug 2021 15:33 WIB

Camat Jelaskan Alasan Penghapusan Mural Kelaparan di Ciledug

Tiga mural di wilayah Tangerang Raya dihapus dengan alasan beragam.

Rep: Eva Rianti/ Red: Erik Purnama Putra
Mural bertuliskan
Foto: Istimewa
Mural bertuliskan

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Mural bertuliskan 'Wabah Sesungguhnya Adalah Kelaparan' di Jalan Wahidin Sudiro Husodo, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, Provinsi Banten, dihapus oleh petugas kecamatan. Penghapusan itu iklaim lantaran adanya permintaan dari warga.

Camat Ciledug Syarifuddin menjelaskan,  penghapusan mural di dinding itu juga lantaran muatan dalam tulisan tersebut yang tidak sesuai. Dia menjelaskan, mural tersebut tertera di sebuah pintu seng milik seorang warga. Dia mengatakan, petugas bergerak lantaran adanya permohonan penghapusan dari masyarakat.

"Yang pertama, alasan dihapus karena permohonan dari orang yang menggunakan lahan tersebut, itu kan sebenarnya pintu keluar masuk, jadi punya pribadi lah bukan punya umum atau jalan umum," tutur Syarifuddin saat dihubungi Republika, Kamis (19/8).

Syarifuddin mengakui, penghapusan mural juga lantaran tulisan 'Wabah Sesungguhnya Adalah Kelaparan' viral di media sosial. "Yang kedua juga karena kita melihat dari sisi tulisannya ada sedikit yang sekarang lagi (viral), seperti agak ke situ lah. Tapi yang prioritas kita ada permintaan dari yang punya lahan," terangnya.

Belakangan ini, marak penghapusan mural di wilayah Tangerang Raya. Sebelum di Ciledug, penghapusan mural juga terjadi di Kabupaten dan Kota Tangerang. Pertama, mural bertuliskan 'Tuhan Aku Lapar!!' di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, serta mural mirip wajah Presiden Joko Widodo bertuliskan '404: Not Found' di wilayah Batu Ceper, Kota Tangerang dihapus aparat.

Hanya saja, Syarifuddin menekankan, upaya menghapus mural tidak ada tendensi tertentu. Dia juga menyebut, tidak ada yang tersinggung terkait mural itu. Dia mengatakan, seniman boleh berkreasi membuat mural apapun, asal digambar di tempat yang tepat.

Dia mengingatkan, mural tidak boleh mengganggu kenyamanan dan ketertiban/ kebersihan lingkungan. "Kalau menurut saya sih enggak juga (tendensius), mungkin hanya mengingatkan kita semua, bukan pemerintah saja, tapi masyarakat luas, mungkin ada masyarakat yang dari sisi ekonomi masih bagus harus berbagi kepada warga yang kesulitan," tutur Syarifudin.

Syarifuddin mengatakan, mural tersebut dihapus pada Selasa (17/8) usai dirinya memperoleh laporan dari warga. Penghapusan itu dilakukan oleh pihak kecamatan melalui satuan tugas (satgas) kebersihan dan lingkungan.

Menurut pengamatannya, mural itu diduga digambar baru-baru ini. "Kayaknya belum lama ya kalau saya lihat dari catnya atau bahan yang nempel itu kayaknya masih baru gitu," ujarnya.

Sebelumnya, di Kota Tangerang, tepatnya di sebuah tembok di Jalan Pembangunan 1, Kelurahan Batu Jaya, Kecamatan Baru Ceper, juga ada mural mirip wajah Jokowi bertuliskan '404 : Not Found' dihapus pada Kamis (12/8). Mural tersebut dihapus oleh kepolisian lantaran dinilai melanggar hukum dengan melecehkan Presiden sebagai lambang negara.

Hingga saat ini polisi masih memburu pembuat mural tersebut. Dua orang saksi diketahui sudah diperiksa oleh kepolisian sektor (polsek) Batu Ceper.

"Masih belum ada (penambahan saksi). Masih dalam proses penyelidikan," kata Kapolsek Batu Ceper AKP David Purba kepada Republika, Kamis. Eva Rianti

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement