Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

11 Kota di Prancis Siap Sambut Pengungsi Afghanistan

Kamis 19 Aug 2021 10:10 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah

Kolonel Diego Giarrizzo, kepala operasi evakuasi Aquila Omnia berbicara kepada wartawan di bandara internasional Fiumicino Roma, Rabu, 18 Agustus 2021 saat mereka menunggu turunnya 86 pengungsi yang tiba dari Kabul, Afghanistan dengan angkutan udara.

Kolonel Diego Giarrizzo, kepala operasi evakuasi Aquila Omnia berbicara kepada wartawan di bandara internasional Fiumicino Roma, Rabu, 18 Agustus 2021 saat mereka menunggu turunnya 86 pengungsi yang tiba dari Kabul, Afghanistan dengan angkutan udara.

Foto: AP/Gregorio Borgia
Sikap itu diambil sebagai bentuk solidaritas dan kemanusiaan terhadap warga Afghan.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Wali Kota dari 11 kota di Prancis menyatakan kesiapannya untuk menampung pengungsi Afghanistan dengan bermartabat. Mereka mendesak pemerintah untuk menunjukkan solidaritas.

Beberapa wali kota yang tergabung dalam partai sayap kiri dan sosialis, menyatakan sikap mereka di media sosial. Hal ini untuk menunjukkan solidaritas dan kemanusiaan yang mendesak kepada warga negara Afghanistan yang menghadapi bahaya dari Taliban.

Baca Juga

Pernyataan tersebut sebagai tanggapan atas pidato Presiden Emmanuel Macron pada Senin (16/8) yang menyatakan tentang perlunya melindungi Eropa dari aliran migran gelap yang berasal dari krisis di Afghanistan. Pernyataan Macron menimbulkan kecaman dan kritik dari partai-partai kiri dan sosialis.

Wali Kota Bordeaux, Pierre Hurmic, mengatakan, dia menulis surat kepada Kementerian Luar Negeri dan berkomitmen untuk menyambut beberapa keluarga Afghanistan. “Kota kami, seperti banyak kota lainnya, dimobilisasi dalam upaya solidaritas internasional yang harus dikoordinasikan di tingkat nasional dan Eropa,” kata Hurmic dalam suratnya, dilansir Anadolu Agency, Kamis (19/8).

Sementara itu, Wali Kota Lyon, Gregory Doucet, mengatakan, Lyon sebagai kota terbesar kedua di Prancis siap untuk menyambut warga Afghanistan yang mencari perlindungan.  “Kami memiliki kapasitas untuk menyambut dengan bermartabat," ujar Doucet.

Baca juga : FAA Batasi Maskapai AS untuk Terbang di Atas Afghanistan

Wali Kota Nancy, Mathieu Klein dan Presiden Departemen Meurthe-et-Moselle, Chaynesse Khirouni, menulis surat kepada Macron yang menyatakan  tentang kesiapan wilayah mereka untuk memberikan perlindungan bagi anak-anak, wanita dan pria Afghanistan yang berada dalam bahaya.

Sementara itu,  Wali Jota Paris, Anne Hidalgo dan Wakil Wali Kota Paris, Dominique Versini mendesak Prancis berdiri dalam solidaritas dan membantu para pengungsi Afghanistan.

Wali Kota Marseille, Benoit Payan, mengatakan, kotanya memiliki sejarah yang terkait dengan orang-orang yang teraniaya, diburu, dan kelaparan. Ketika itu, mereka datang ke Marseille untuk bertahan hidup. Oleh karena itu, Payan mengatakan, orang-orang yang datang dari Kabul akan selalu memiliki tempat di kotanya.

Walikota wilayah lainnya seperti Laval, Clermont Ferrand, Besancon, Tours, Strasbourg dan Rouen juga membangkitkan tradisi ramah yang sudah lama ada di kota mereka. Kota-kota ini siap menyambut mereka yang membutuhkan dan memberikan perlindungan, sambil memastikan bahwa mereka akan membantu para pengungsi.

Tetapi tidak semua orang siap menerima pengungsi yang menghadapi kematian dan kesulitan di Afghanistan. Wali Kota Nice, Christian Estrosi dan Walikota Perpignan, Louis Alio yang memiliki basis besar pemilih sayap kanan, mengatakan, mereka tidak ingin menerima pengungsi Afghanistan. Keduanya mengatakan, kota mereka telah menjadi korban kekejaman teroris dalam beberapa tahun terakhir. “Kota kami telah menjadi korban terorisme dalam beberapa tahun terakhir secara signifikan, mari kita terapkan kebijakan migrasi dengan kuota,” kata Estrosi kepada berita RTL.

Nice adalah lokasi dua serangan teror dalam lima tahun terakhir, ketika sebuah truk menabrak dan membunuh 86 pejalan kaki di Promenade de Anglais yang merayakan hari Bastille pada Juli 2016. Kelompok ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.  Kemudian pada Oktober 2020 tiga orang tewas ditikam di sebuah katedral.

Aliot mengutip kurangnya sumber daya untuk mengelola lebih banyak pengungsi. Aliot mengatakan, pemerintah setempat tidak dapat mengelola para migran yang sudah memenuhi jalan-jalan dan memenuhi akomodasi darurat.

Baca juga : Ini Prediksi Model Pemerintahan Taliban ke Depan

Partai Reli Nasional yang dipimpin oleh pemimpin sayap kanan, Marine Le Pen telah menyatakan keprihatinan tentang gelombang baru migran Afghanistan.

Jerome Riviere, anggota Parlemen Eropa yang mewakili partai tersebut, mengatakan, pemerintah Macron akan menempatkan Prancis dalam bahaya

jika menerima ribuan migran Afghanistan yang kemungkinan dapat memunculkan terorisme.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA