Tuesday, 6 Zulhijjah 1443 / 05 July 2022

Kriteria Teman yang Patut Menurut Syekh Ibnu Athaillah

Kamis 19 Aug 2021 05:45 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah

Tidak semua orang pantas untuk dijadikan teman sejati. Ilustrasi teman

Tidak semua orang pantas untuk dijadikan teman sejati. Ilustrasi teman

Foto: Republika/Musiron
Tidak semua orang pantas untuk dijadikan teman sejati

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –  Seorang ulama besar kelahiran Mesir, Ibu Athaillah As Sakandari telah mengingatkan kepada umat Islam, khususnya kepada para murid untuk berahabat dengan orang yang bisa membuat bersemangat dan ucapannya selalu membawa ke jalan Allah.

Dalam kitab Al-Hikam, Ibnu Athaillah mengungkapkan pernyataannya sebagai berikut: 

Baca Juga

لا تصحب من لا ينهضك حاله ولا يدلك على الله مقاله “Jangan kau temani orang yang keadaannya tidak membuatmu bersemangat dan ucapannya tidak membimbingmu ke jalan Allah.”

Dalam syarahnya di buku al-Hikam terbitan TuRos, Syekh Abdullah Asy Syarqawi menjelaskan maksud hikmah yang disampaikan Ibnu Athaillah tersebut. 

Menurut dia, seorang murid dilarang oleh Ibnu Athaillah untuk berteman dengan orang semacam itu sekalipun orang itu adalah ahli ibadah atau ahli zuhud karena dianggap tidak ada gunanya.

Sebaliknya, menurut Syekh Abdullah, seorang murid disarankan berteman atau bersahabat dengan orang yang bisa membuat bersemangat dan ucapannya membimbing ke jalan Allah.

Baca juga : Kelompok Aliansi Utara Siap Melawan Taliban

Misalnya, orang yang tekadnya tinggi yang senantiasa bergantung kepada Allah, jauh dari makhluk, atau dalam setiap kebutuhannya tidak bertumpu kecuali kepada Allah dan dalam setiap perkara tidak bertawakkal kepada selain-Nya.

“Sehingga di matanya seluruh manusia tak berarti apa-apa, tidak bisa mendatangkan bahaya maupun manfaat,” kata Syekh Abdullah.

Bahkan, lanjutnya, ia menganggap dirinya sendiri rendah dan tak berguna, tidak mampu berbuat sesuatu, dan tidak bisa menentukan nasibnya sendiri. Dalam setiap amalnya, dia tetap berjalan pada jalur syariat, tanpa melebih-lebihkannya atau menguranginya. Inilah sifat orang-orang arif yang mengenal Allah.

Menemani orang-orang seperti itu, menurut Syekh Abdullah, walaupun ibadahnya sedikit dan amalan sunnahnya tidak banyak, sangat dianjurkan bagi seorang murid karena banyak mendatangkan manfaat, baik dari sisi agama maupun dunia. Sebab, manusia selalu mengikuti tabiat manusia lain.

“Adapun orang-orang yang tidak memiliki sifat-sifat di atas, kita hanya diperbolehkan bergaul dengan mereka secara lahir, tidak lebih, karena tidak ada gunanya bergaul dengan mereka,” jelas Syekh Abdullah. 

Baca juga :'Vaksinasi Merdeka di Jakarta Capai Target'  

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA