Friday, 19 Syawwal 1443 / 20 May 2022

Tujuan Hijrah Nabi Muhammad SAW Menurut Habib Jindan 

Rabu 18 Aug 2021 15:18 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Habib Jindan mengajak umat Islam aplikasikan makna hijrah Nabi.

Habib Jindan mengajak umat Islam aplikasikan makna hijrah Nabi.

Foto: Dok Istimewa
Habib Jindan mengajak umat Islam aplikasikan makna hijrah Nabi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Teladan dari Rasulullah SAW dalam berhijrah harus menjadi semangat bangsa Indonesia untuk mengisi kemerdekaan. 

Hal ini disampaikan Habib Jindan bin Novel dalam peringatan Muharram dan HUT RI di Pesantren Baitul Hikmah, Depok, Jawa Barat.

Baca Juga

Agenda yang berlangsung pada Senin (16/08/2021) ini juga dihadiri Pengasuh Pesantren Baitul Hikmah Dr KH M Hamdan Rasyid, Plt Ketua Umum Mahasiswa Ahli Thoriqoh al-Mu'tabaroh an-Nahdliyyah (MATAN) NU, Dr H  Hasan Chabibie, dan beberapa ustadz serta ratusan santri. 

Menurut Habib Jindan, semangat hijrah dari Nabi Muhamad haruslah jadi teladan bersama. "Nabi Muhammad berhijrah untuk meraih kemuliaan. Untuk apa? Agar Islam bisa berkembang. Agar ilmunya Rasulullah bisa hidup. Agar bisa mendirikan sholat dengan benar, agar dapat berdizkir. Agar dapat bertasbih, agar menjalankan akhlak dan adab," terang Habib Jindan, Pengasuh Pesantren al-Fachriyah. 

Dalam kesempatan itu, Habib Jindan juga menyampaikan pentingnya memaknai perjuangan para kiai dan habaib. "Di balik kemerdekaan Indonesia, ada tokoh-tokoh ulama besar, para wali dan orang-orang saleh. Seperti Kiai Hasyim Asy'ari, juga para kiai dan habaib. 

Mereka ini berjuang, sebelumnya disiksa Jepang, disiksa Belanda, dipenjara, dan gangguan lainnya. Habib Salim pernah divonis untuk dieksekusi pihak penjajah. Tapi, anugerah dari Allah SWT yang menyelamatkan beliau," jelasnya. 

Lebih lanjut, Habib Jindan menjelaskan betapa penting keikhlasan dan ketulusan berjuang. "Para ulama itu berjuang tanpa pamrih. Nggak mau gelar apapun, nggak mau kekuasaan apapun. Karena ketulusan dan keikhlasan itulah, para pejabat dan pemimpin negeri ini hormat sekaligus meminta saran kepada para ulama."

Sementara itu, Kiai Hasan menyatakan saat ini merupakan momentum tepat untuk meneladani warisan hijrah Nabi dan perjuangan kemerdekaan dari ulama. 

"Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 itu buah dari perjuangan para ulama, kiai, santri dan habaib juga para pejuang yang saat itu meneteskan darah dan air mata supaya adik-adik saat ini bisa belajar dan mengaji dengan tenang. Perjuangan itu juga agar kita saat ini bisa menikmati hidup dengan damai," ungkap Hasan, yang juga menjadi Plt Kapusdatin Kemendikbud Ristek. 

Jika tidak ada perjuangan para habaib, kiai dan dan santri, menurut Kiai Hasan, negara Indonesia tidak bisa berdiri hingga kini. "Di Jakarta kita mengenal sosok Habib Ali, yang pada waktu menjelang proklamasi kemerdekaan disowani Bung Karno. Jadi Bung Karno memohon doa agar proses pembacaraan teks proklamasi berjalan lancar."

Dia mengisahkan, Bung Karno juga sowan ke Jombang, untuk memohon restu dan barokah, dari Hadratus Syaikh Hasyim Asyari sebelum membacakan teks proklamasi ini. Juga, dengan kiprah para ulama lainnya. 

"Maka, mari kita teguhkan, mari kita teladani semangat hijrah Nabi Muhammad dalam mengisi kemerdekaan, khususnya bagi generasi muda di Indonesia. Wabil khusus untuk santriwan dan santriwati pondok pesantren," tegas Hasan.

Pengasuh Pesantren Baitul Hikmah, KH Hamdan Rasyid, mengajak untuk mengkaji perjuangan para pendahulu. "Penting bagi kita semua untuk mengkaji nilai-nilai perjuangan, nilai pengorbanan, nilai keimanan, dan keikhlasan dari para pendahulu kita."

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA