Friday, 14 Muharram 1444 / 12 August 2022

Sekjen PBB Desak Taliban untuk Menahan Diri

Senin 16 Aug 2021 10:01 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah

Seorang anak Afghanistan yang melarikan diri karena pertempuran antara Taliban dan pasukan keamanan Afghanistan dari provinsi utara bermain di dekat tempat penampungan sementaranya di sebuah taman umum di Kabul, Afghanistan, 14 Agustus (dikeluarkan 15 Agustus).

Seorang anak Afghanistan yang melarikan diri karena pertempuran antara Taliban dan pasukan keamanan Afghanistan dari provinsi utara bermain di dekat tempat penampungan sementaranya di sebuah taman umum di Kabul, Afghanistan, 14 Agustus (dikeluarkan 15 Agustus).

Foto: EPA-EFE/HEDAYATULLAH AMID
Guterres prihatin dengan masa depan perempuan dan anak perempuan di Afghanistan.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres meminta Taliban dan pihak lain di Afghanistan untuk menahan diri. Hal ini diungkapkan setelah Taliban mengambilalih istana kepresidenan di Kabul.

"Kami mendesak Taliban dan semua pihak lain untuk menahan diri, melindungi nyawa dan memastikan bahwa kebutuhan kemanusiaan dapat ditangani," kata Guterres, dilansir Anadolu Agency, Senin (16/8).
 
Guterres prihatin dengan masa depan perempuan dan anak perempuan di Afghanistan. Mereka telah memperoleh hak-haknya dengan susah payah. "Semua pelanggaran harus dihentikan. Kami menyerukan kepada Taliban dan semua pihak lain untuk memastikan bahwa hukum humaniter internasional dan hak-hak dan kebebasan semua orang dihormati dan dilindungi," kata Guterres.
 
Guterres dijadwalkan memberikan pidato di depan Dewan Keamanan pada Senin (16/8), bertepatan dengan sesi darurat tentang situasi di Afghanistan. Di bawah pemerintahan Taliban antara 1996 dan 2001, perempuan tidak bisa bekerja, dan anak perempuan tidak diizinkan bersekolah. Selain itu perempuan harus menutupi wajah mereka, serta ditemani kerabat laki-laki jika mereka ingin keluar dari rumah.
 
Dalam sebuah pernyataan pada 3 Agustus yang disetujui secara konsensus, 15 anggota dewan menyatakan mereka tidak mendukung pemulihan Imarah Islam atau aturan Taliban. 
 
 
Duta Besar Afghanistan untuk PBB, Ghulam Isaczai, mengatakan kepada Reuters dia berpesan ke dewan untuk melakukan segalanya dalam mencegah kekerasan lebih lanjut dan memastikan transisi yang teratur.
 
Seperti dilansir Al Arabiya, Senin (16/8), Guterres memperingatkan bahwa kondisi Afghanistan telah di luar kendali. Dia meminta Taliban untuk menghentikan serangan mereka. PBB memiliki sekitar 3.000 staf nasional dan 300 staf internasional di Afghanistan. Pada Jumat beberapa staf telah dipindahkan ke Kabul tapi tidak ada yang dievakuasi dari negara itu.
 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA