Saturday, 20 Syawwal 1443 / 21 May 2022

 Peran Ormas Islam dalam Sejarah Kemerdekaan Bangsa

Senin 09 Aug 2021 22:43 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Muhammad Hafil

 Peran Ormas Islam dalam Sejarah Kemerdekaan Bangsa. Foto ilustrasi;   Pedagang menata bendera dan umbul-umbul Merah Putih di jalan Protokol Kota Lhokseumawe, Aceh, Senin (9/8/2021). Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia, pedagang bendera musiman dari luar Aceh mulai menjual bendera dari harga Rp40 ribu hingga Rp400 ribu tergantung motif dan ukuran.

 Peran Ormas Islam dalam Sejarah Kemerdekaan Bangsa. Foto ilustrasi; Pedagang menata bendera dan umbul-umbul Merah Putih di jalan Protokol Kota Lhokseumawe, Aceh, Senin (9/8/2021). Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia, pedagang bendera musiman dari luar Aceh mulai menjual bendera dari harga Rp40 ribu hingga Rp400 ribu tergantung motif dan ukuran.

Foto: ANTARA/RAHMAD
 Peran Ormas Islam dalam Sejarah Kemerdekaan Bangsa

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA—Anggota DPR RI sekaligus Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PKS, Hidayat Nur Wahid menegaskan peran historis yang dijalankan para Ulama, Pesantren, dan Ormas-Ormas Islam dalam mewujudkan kemerdekaan dan peradaban Indonesia. 

“Lahir dan merdekanya Indonesia tidaklah terlepas dari peranan banyak Bapak Bangsa termasuk para Ulama, Pesantren, dan Ormas-Ormas Islam. Dan oleh karenanya, Ormas-Ormas Islam, dan Pesantren pada hari ini sewajarnya menjadi pelanjut kiprah mereka dalam memberikan sumbangsih terbaik bagi kemajuan peradaban Indonesia dan masyarakat Dunia,” ujar politikus yang akrab disebut HNW itu saat menyampaikan sambutan di peringatan virtual Milad Ormas dan Pesantren Hidayatullah ke-50, Senin (9/8).

Baca Juga

Dia mengingatkan sejarah dan peran para ulama yang berkontribusi dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa, salah satunya Syeik Cholil Bangkalan, guru dari para pendiri ormas Islam dan bapak-bapak bangsa. Begitu halnya dengan KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama pada 1926, begitu juga KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah pada 1912. 

“Maka wajarlah jika peran dan sejarah emas tersebut melahirkan situasi kondusif bagi penerimaan publik terhadap pesantren, dakwah, dan ormas yang beraqidahkan ahlussunnah wal jamaah, termasuk juga memudahkan jalan bagi lahirnya dan diterimanya lembaga kepesantrenan dan ormas Hidayatullah di tengah masyarakat yang terus berkembang kiprahnya hingga berusia 50 tahun, dan  mempunyai lebih dari 600 cabang di seluruh Indonesia,” ujarnya. 

Wakil Ketua Majelis Syura PKS ini menyampaikan bahwa tidak hanya ajaran ahlussunnah wal jamaah yang diterima luas oleh umat Islam di Indonesia, sejarah perjuangan para ulama, pesantren dan ormas Islam dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa juga merupakan fakta yang diterima masyarakat secara luas. 

“Semua torehan sejarah tersebut menjadi bukti abadi komitmen umat Islam merawat negara dan memajukan peradaban bangsa untuk disumbangsihkan bagi kemajuan peradaban dunia, sebagaimana disepakati dalam Piagam Jakarta, atas prinsip yang moderat, kooperatif, demokratis, rahmatan lil ‘alamin, dan bukan sebagaimana yang distigmakan oleh sebagian kalangan Islamophobia yang hari ini berusaha menghapus sejarah peran Ulama, Pesantren, dan Ormas Islam,” kata HNW. 

Dia juga menggarisbawahi kontribusi umat Islam di Indonesia bagi peradaban dunia, terutama dengan pembelaan terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina dan penolakan terhadap penjajahan Israel, sebagaimana termaktub dalam alinea I Piagam Jakarta. Pembelaan atas Palestina juga diajarkan oleh mendiang KH. Hasyim Asy;ari dan KH. Wahab Hasbullah jauh sebelum Indonesia merdeka, sebagaimana tercatat pada Muktamar Nahdlatul Ulama ke-13 di Menes, Pandeglang, Banten, pada 12-15 Juli 1938. 

“Tentu saja Hidayatullah yang selama ini juga bergerak membantu Palestina merdeka dan menolak penjajahan Israel, juga merupakan kelanjutan dari sikap mensejarah tersebut,” kata HNW.

HNW mengungkapkan dukungan penuh atas kiprah Hidayatullah dengan segala terobosan-terobosan baru dalam bidang dakwah dan tarbiyah untuk membawa perbaikan peradaban di Indonesia maupun dunia. Dia menjelaskan, prinsip umum dalam berdakwah, bertarbiyah, berinteraksi, dan berperilaku dengan seluruh umat manusia adalah ihsan, hikmah, dan mauizhoh hasanah (nasihat yang baik), begitu juga melalui mujadalah (berdebat) dengan yang lebih baik, serta prinsip membela bangsa dan negara. 

“Kesuksesan peradaban Islam tidak menghadirkan hal-hal yang distigmakan oleh kalangan Islamophobia seperti radikalisme, ekstremisme, terorisme, anti sosial, anti NKRI, dan lain-lain, melainkan menjadi Rahmatan lil alamin. Ini semakin relevan dan penting, terutama di masa keterbukaan informasi saat ini yang dipengaruhi cara pandang post truth, sehingga semakin banyak orang berbicara sesukanya tentang apa pun sesukanya,” tuturnya. 

“Dengan manhaj, visi, potensi dan pengalaman 50 tahun yang dimiliki Hidayatullah, penting untuk menjadi pelanjut pemberi kontribusi yang unggul untuk mengatasi permasalahan-permasalahan di Indonesia, memaksimalkan potensi Bangsa hingga menjadi kontributor untuk kebaikan untuk peradaban Dunia,” tutup HNW.

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA