Friday, 26 Syawwal 1443 / 27 May 2022

UMJ Jalin Kerja Sama dengan SEAMEO SEAMOLEC

Jumat 06 Aug 2021 16:34 WIB

Red: Hiru Muhammad

Penandatanganan MoU dilakukan di Kampus UMJ oleh Rektor UMJ, Dr. Ma’mun Murod Al- Barbasy, M.Si dan Direktur SEAMOLEC, R. Alpha Amirrachman, M.Phil., PhD., dan disaksikan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMJ, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed dan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerja sama, Dr. Endang Sulastri, M.Si.

Penandatanganan MoU dilakukan di Kampus UMJ oleh Rektor UMJ, Dr. Ma’mun Murod Al- Barbasy, M.Si dan Direktur SEAMOLEC, R. Alpha Amirrachman, M.Phil., PhD., dan disaksikan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMJ, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed dan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerja sama, Dr. Endang Sulastri, M.Si.

Foto: istimewa
UMJ siap menjadi Learning Center mitra SEAMOLEC untuk pembelajaran jarak jauh

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Sebagai upaya pengembangan proses pembelajaran jarak jauh online, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menjalin kerja sama dengan South East Asia Ministers of Education Organization Regional Open Learning Centre (SEAMEO SEAMOLEC).

Penandatanganan MoU dilakukan di Kampus UMJ Rektor UMJ, Dr. Ma’mun Murod Al- Barbasy, M.Si dan Direktur SEAMOLEC, R. Alpha Amirrachman, M.Phil., PhD., dan disaksikan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMJ, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed dan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerja sama, Dr. Endang Sulastri, M.Si. 

Ikut hadir juga dalam acara tersebut para Wakil Rektor dan para Dekan di lingkungan UMJ. Selain dilaksanakan secara offline, acara juga disaksikan secara online oleh para dosen di lingkungan UMJ. Penandatanganan MoU dilanjutkan dengan Kuliah Umum dengan tema “Transformasi Digital untuk Meningkatkan Proses Pembelajaran dan Mutu Lulusan Perguruan Tinggi”, yang disampaikan R. Alpha Amirrachman.

Rektor UMJ, Ma’mun Murod Al-Barbasy menyampaikan  UMJ siap menjadi Learning Center mitra SEAMOLEC untuk pembelajaran jarak jauh, dan siap untuk menyempurnakan Learning Manajemen System (LMS) bersama dengan SEAMOLEC. “Banyak program yang dapat disinergikan antara UMJ dan SEAMOLEC dalam hal online learning system, Sea Teacher yang dapat diikuti oleh mahasiswa UMJ untuk mengajar di beberapa kampus di wilayah ASEAN secara reciprocal, SEA-TVET Program yang mana mahasiswa UMJ dapat mengikuti magang di dunia industri di wilayah ASEAN, dan lain sebagainya”, demikian jelas Ma’mun Murod.

Ketua BPH UMJ, Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya para dosen merubah mindset offline ke mindset online, dari pembelajaran klasikal ke pembalajaran online. “Dengan adanya kerja sama ini ke depan agar dapat didesain modul-modul pembelajaran online, yang tentu akan lebih murah dari segi biaya, dan possible dan affordable dari sisi teknologi. Dengan demikian kita dapat menyajikan model pembelajaran yang mudah dan murah”, demikian kata Abdul Mu’ti yang juga Sekretaris Umum PP Muhammadiyah ini. 

Abdul Mu’ti menambahkan bahwa Muhammadiyah menyadari betul bahwa ke depan pembelajaran online akan menjadi trend yang akan terus berkembang sehingga kita harus look ahead dalam mempersiapkannya, untuk itu Persyarikatan Muhammadiyah sedang dalam proses membangun Muhammadiyah Cyber University (MCU) yang saat ini sudah keluar izinnya.

Sementara itu, Direktur SEAMOLEC, R. Alpha Amirrachman menyampaikan  saat ini di masa Pandemi Covid-19 ada 1.5 milyar pelajar di dunia yang terpaksa belajar secara online, dan ada 3.000 universitas di Asia Tenggara dan 20.000 di seluruh dunia yang terpaksa ditutup yang mengakibatkan berkurangnya kesempatan belajar. “Selain dampak positif, pembelajaran online juga mendatangkan dampak negative, seperti kurangnya pemerataan di beberapa daerah yang terjadi digital gap karena kurangnya akses internet”, kata Alpha yang meraih gelar PhD di Universiteit Van Amsterdam-Belanda ini.

Alpha menekankan  tidak semua online learning harus berbasis internet. Namun, dapat berbasis modul, tv, radio, dan lain sebagainya. Alpha juga menyesalkan banyaknya guru dan dosen yang mengalihkan model pembelajaran konvensional ke online dengan apa adanya. 

Padahal mestinya tidak harus seperti itu. Video conference cukup hanya 30 menit, selebihnya dapat dilakukan task force learning dan diskusi kelompok online dalam kelas-kelas kecil. Jadi tidak monoton hanya mendengarkan ceramah guru atau dosen di video conference.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA