Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Permintaan Naik, HBA Agustus Dipatok 130,99 Dolar AS Per Ton

Rabu 04 Aug 2021 22:07 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Fuji Pratiwi

Aktivitas bongkar muat batubara (ilustrasi). HBA Agustus 2021 menyentuh angka 130,99 dolar AS per ton.

Aktivitas bongkar muat batubara (ilustrasi). HBA Agustus 2021 menyentuh angka 130,99 dolar AS per ton.

Foto: Antara/Prasetyo Utomo
Angka ini adalah yang tertinggi lebih dari satu dekade terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Meningkatnya permintaan batubara di China, Jepang, dan Korea Selatan kembali mengerek harga batubara global. Kondisi itu turut mempengaruhi Harga Batubara Acuan (HBA) bulan Agustus 2021 hingga ke angka 130,99 dolar AS per ton, angka tertinggi lebih dari satu dekade terakhir.

"Melambungnya harga batubara dunia dipengaruhi musim penghujan yang ekstrem di China yang mengganggu kegiatan produksi dan transportasi batubara di negara tersebut, sementara kebutuhan batubara meningkat untuk keperluan pembangkit listrik yang melampaui kapasitas pasokan batubara domestik negara tersebut," ujar Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Agung Pribadi.

Agung menambahkan, menguatnya harga juga didorong meningkatnya permintaan batubara dari Jepang dan Korea Selatan yang menjadi faktor naiknya harga batubara global. Sebelumnya, pada Februari 2011 rekor HBA tertinggi dicatatkan sebesar 127,05 dolar AS per ton.

Sempat melandai pada Februari-April 2021, HBA mencatatkan kenaikan beruntun pada periode Mei-Juli 2021 hingga menyentuh angka 115,35 dolar AS per ton di Juli 2021. Ternyata, kenaikan tersebut terus konsisten hingga Agustus 2021 dengan mencatatkan rekor tertinggi baru.

Sebagai informasi, HBA adalah harga yang diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt's 5900 pada bulan sebelumnya, dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal/kg GAR, Total Moisture 8 persen, Total Sulphur 0,8 persen, dan Ash 15 persen.

Terdapat dua faktor turunan yang memengaruhi pergerakan HBA yaitu, pasokan dan permintaan. Pada faktor turunan pasokan dipengaruhi oleh cuaca, teknis tambang, kebijakan negara supplier, hingga teknis di rantai pasok seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal.

Sementara untuk faktor turunan permintaan dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro.

Nantinya, HBA bulan Juli ini akan dipergunakan pada penentuan harga batubara pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Vessel).

 

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA