Anggaran Pakan Satwa di Cikembulan Garut Dikurangi

Rep: Bayu Adji P/ Red: Agus raharjo

Pengunjung memadati Taman Satwa Cikembulan, Kabupaten Garut, Jumat (3/1).
Pengunjung memadati Taman Satwa Cikembulan, Kabupaten Garut, Jumat (3/1). | Foto: Dok Taman Satwa Cikembulan

REPUBLIKA.CO.ID, GARUT -- Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang diterapkan di Kabupaten Garut mempuat operasional Taman Satwa Cikembulan harus berhenti sementara. Sudah lebih dari satu bulan, lembaga konservasi satwa di luar habitatnya (ex-situ) itu ditutup untuk pengunjung.

Manajer Operasional Taman Satwa Cikembulan, Rudi Arifin mengatakan, selama ini pihaknya selalu mengikuti aturan pemerintah dengan menutup operasional kebun binatang yang dikelolanya. Namun, pemutupan taman satwa itu berdampak kepada tak adanya pemasukan untuk kebutuhan pakan satwa. Taman Satwa Cikembulan menyiasati kondisi itu dengan mengurangi biaya belanja untuk pakan satwa.

"Kondisi pakan satwa agak sedikit perbedaan dengan kondisi normal. Memang sejak tahun lalu kita sudah selektif memilih harga pakan. Namun dengan PPKM ini lebih selektif lagi," kata dia saat dihubungi Republika.co.id, Rabu (4/8).

Kendati biaya untuk pakan dipangkas, satwa di Taman Satwa Cikembulan dinilai tetap dapat terpenuhi kebutuhannya. Pengurangan biaya pakan itu juga tak berpengaruh kepada kondisi kesehatan satwa.

Rudi mencontohkan, untuk satwa jenis karnivora yang biasanya lebih banyak diberi makan daging sapi, saat ini lebih banyak diberi daging ayam. Namun, jumlah daging yang diberikan lebih banyak ketimbang kondisi normal.

"Kita tambah sedikit berat dagingnya, karena mungkin beda kandungan proteinnya," kata dia.

Sementara untuk satwa jenis primata dan unggas, yang biasanya diberikan makan jagung hasil membeli di pasar, saat ini pengurus lebih memilih membeli jagung langsung ke petani. Sebab, harga jagung di petani lebih murah 50 persen.

Ia menambahkan, pihaknya juga beberapa kali menerima donasi dari berbagai kalangan untuk pakan satwa. Meski tak banyak, bantuan itu dinilai membantu untuk memenuhi kebutuhan pakan satwa.

Rudi mengatakan, meski anggaran untuk pakan dikurangi, pihaknya selalu memeriksa kondisi kesehatan satwa. Pemeriksaan kondisi kesehatan satwa dilakukan secara rutin setiap harinya.

Menutut dia, sekitar 445 ekor satwa di Taman Satwa Cikembulan masih dalam kondisi baik. Selama pandemi, kematian dan kelahiran satwa juga tetap terjadi. Namun tak ada satwa yang mati kelaparan. "Kondisi kesehatan hingga saat ini masih aman. Karena tak ada pengunjung juga satwa rehab," kata dia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Terkait


Awal Dibuka, 500 Orang Kunjungi Taman Satwa Cikembulan

Taman Satwa Cikembulan Harapkan Bantuan Dana untuk Satwa

Pengelola Taman Satwa di Garut Kesulitan Penuhi Pakan Hewan

Pengunjung Taman Satwa Cikembulan Capai 20 Ribu Orang

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan Jabar. Jalan Mangga 47, Bandung 40114, Indonesia.

Phone: +6222 87243363, +6222 87243364 , +6222 87243365

jabar@republika.co.id

Ikuti

× Image