Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Alasan The Conjuring Universe Jadi Film Horor Terbaik

Selasa 03 Aug 2021 08:10 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Qommarria Rostanti

Salah satu adegan di film The Conjuring 3.

Salah satu adegan di film The Conjuring 3.

Foto: Warner Bros Pictures.
Bukan hanya soal tiket, ada beberapa alasan lain mengapa film ini menjadi sukses.

REPUBLIKA.CO.ID, LOS ANGELES -- Sejak film The Conjuring karya James Wan muncul pada 2013, film horor supranatural itu hadir dengan sekuel dan spin-off. Film berpusat di sekitar penyelidikan ahli demonologi Ed dan Lorraine Warren. 

Perilisan film seri kedelapan The Conjuring: The Devil Made Me Do It mendorong waralaba melewati angka pendapatan 2 miliar dolar AS (sekitar Rp 28,7 triliun) di box office global. Angka itu semakin memperkuat status waralaba sebagai properti horor terlaris sepanjang masa, bukan disesuaikan dengan inflasi harga tiket.

Bukan hanya tonggak box office yang mengesankan, tetapi seberapa cepat The Conjuring Universe mencapainya. Misalnya, waralaba horor terlaris kedua, Alien, menghasilkan 1,35 miliar dolar AS (sekitar Rp 19,3 triliun), yang berasal dari 1979.

Sedangkan pendapatan tertinggi ketiga Resident Evil sebanyak 1,24 miliar dolar AS (sekitar Rp 17,8 triliun) berlangsung selama 19 tahun. Meskipun harga tiket lebih mahal merupakan salah satu faktor kontribusi, tetapi itu bukan satu-satunya alasan kesuksesan finansial The Conjuring. Alasan lain yang membuat The Conjuring sukses yakni:

1. The Conjuring berdasarkan kisah nyata

Klaim Warner Bros Pictures dan New Line Cinema menyebut film The Conjuring berdasarkan kisah nyata adalah liar, di mana waralaba itu memperkenalkan biarawati iblis, gaun pengantin, dan anjing hantu. Sementara masih menjadi perdebatan ihwal apakah tontonan itu mengambil ide dari kisah nyata, tidak menghentikan pemasaran The Conjuring.

Tak hanya menarik perhatian penonton pada waralaba, masyarakat semakin tertarik dengan penyelidik skeptis yang menyanggah pekerjaan Warrens. Selain itu, berkat gugatan yang diajukan terhadap Warner Bros oleh Gerald Brittle, tuduhan muncul kembali ihwal Ed Warren yang sebenarnya memulai hubungan romantis dengan seorang wanita bernama Judith Penney ketika dia masih di bawah umur. Tuduhan itu melukiskan gambaran yang sangat berbeda tentang Warrens dari pasangan yang penuh kasih dan setia, yang dimainkan oleh Patrick Wilson dan Vera Farmiga dalam film The Conjuring.

2. Film The Conjuring beranggaran rendah

Ketika anggaran untuk film inti berkisar dari 20 juta dolar AS hingga 40 juta dolar AS (sekitar Rp 287 miliar hingga Rp 574 miliar), spin-off hanya menggunakan biaya 6,5 juta dolar AS (sekitar Rp 93 miliar), untuk film Annabelle pertama.

Artinya, mereka tidak harus meraup keuntungan sebanyak rilisan studio lain untuk mengembalikan biaya produksi. Anggaran yang lebih rendah memudahkan //spin-off// dan sekuel The Conjuring mendapatkan lampu hijau, mengingat risiko keuangannya jauh lebih kecil daripada studio lain, misalnya film DC Extended Universe yang menelan biaya lebih dari 200 juta dolar AS (sekitar Rp 2,8 triliun). Akhirnya, Warner Bros merilis film The Conjuring hampir setiap tahun sejak 2013, memungkinkannya untuk melampaui waralaba horor lainnya di tangga box office.

3. Spin-off The Conjuring cepat menciptakan alam semesta

Spin-off mengeksplorasi elemen dan karakter lain dalam mitologi The Conjuring Universe sehingga menghadirkan hal lebih segar daripada mengikuti Ed dan Lorraine. Spin-off bisa menghasilkan film yang terlihat berbeda dan terasa unik, mulai dari The Nun hingga Annabelle Comes Home.

Tentu saja, membawa sutradara yang sedang naik daun untuk menggali setiap sudut pengetahuan The Conjuring untuk mendapatkan inspirasi membuat segalanya menjadi lebih sulit dalam hal kontrol kualitas. Sementara The Conjuring 1 dan 2 diterima dengan baik, The Devil Made Me Do It mengumpulkan ulasan yang beragam.

Reaksi terhadap spin-off bervariasi, misalnya Annabelle: Creation mendapat pujian, sementara The Curse of La Llorona dikecam karena mengubah tokoh kunci cerita rakyat Amerika Latin menjadi monster film horor generik. Dengan demikian, menarik untuk melihat berapa lama lagi waralaba ini terus berjalan sebelum kehabisan "bensin"-nya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA