Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

70 Juta Dosis Vaksin akan Datang pada Agustus dan September

Senin 02 Aug 2021 20:58 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Mas Alamil Huda

Petugas menghitung kardus berisi vaksin Covid-19 saat tiba di gudang Instalasi Farmasi, Kudus, Jawa Tengah, Senin (2/8/2021). Pemerintah setempat menerima sebanyak 20.300 dosis vaksin COVID-19 yang terdiri dari 3.300 dosis vaksin COVID-19 Moderna untuk tenaga kesehatan, 1000 dosis Sinopharm dan 1000 dosis Sinovac serta 15.000 dosis AstraZeneca untuk masyarakat umum.

Petugas menghitung kardus berisi vaksin Covid-19 saat tiba di gudang Instalasi Farmasi, Kudus, Jawa Tengah, Senin (2/8/2021). Pemerintah setempat menerima sebanyak 20.300 dosis vaksin COVID-19 yang terdiri dari 3.300 dosis vaksin COVID-19 Moderna untuk tenaga kesehatan, 1000 dosis Sinopharm dan 1000 dosis Sinovac serta 15.000 dosis AstraZeneca untuk masyarakat umum.

Foto: ANTARA/Yusuf Nugroho
Agustus dan September akan menjadi hari tersibuk untuk vaksinasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menjelaskan Indonesia akan mendapatkan pasokan vaksin lagi sebesar 70 juta dosis. 70 dosis ini rencananya akan datang secara bertahap pada Agustus dan September.

"Vaksinasi, yang paling besar memang akan datang di bulan Agustus dan September. Perkiraan kita yang sudah pasti sekitar 70 jutaan di Agustus dan September," ujar Budi dalam konferensi pers, Senin (2/8).

Budi menjelaskan, Agustus dan September akan menjadi hari tersibuk untuk vaksinasi. Sebab, kata dia, memang dalam delapan bulan ke depan pemerintah akan meningkatkan tingkat vaksinasi.

"Sehingga beban vaksinasi kita akan sangat tinggi. Sebagai perbandingan, Januari-Juli ada 90 juta vaksin yang datang. Jadi kita menyelesaikan 90 juta dalam waktu tujuh bulan, sekarang kita harus mengejar 70 juta dalam waktu delapan bulan," ujar Budi.

Hingga Desember nanti, Budi menargetkan, sebesar 258 juta dosis vaksin akan datang. Ini akan mencukupi dosis vaksin untuk sekitar 70 juta masyarakat lagi yang memang saat ini belum mendapatkan vaksin.

"Kalau semua bisa kita peroleh Agustus-Desember itu 331 juta. Ini kan hampir empat kali lipat dari apa yang kita peroleh di Januari-Juli. Jadi ini membutuhkan peningkatan yang sangat pesat dari sisi vaksinasi di seluruh daerah-daerah," ujar Budi.

Budi juga menjelaskan pemerintah akan memprioritaskan vaksinasi ke daerah yang berisiko tinggi. Daerah yang angka penularannya masih tinggi dan angka kematiannya tinggi akan mendapatkan pasokan prioritas.

"Kita akan konsentrasi ke daerah-daerah yang kasusnya paling banyak dan kematiannya tinggi, yaitu Jawa-Bali, khususnya tujuh aglomerasi besar, Jabodetabek, Bandung Raya, Solo Raya, DIY, Surabaya Raya, Malang Raya, dan Bali. Itu daerah yang kasus aktifnya paling tinggi dan kematiannya paling tinggi," ujar Budi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA