Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Vaksin Gabungan Cara Ampuh Hadapi Pandemi Covid?

Senin 02 Aug 2021 20:46 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Vaksinator mempersiapkan vaksin Covid-19 Astrazeneca sebelum diberikan kepada warga (ilustrasi).

Vaksinator mempersiapkan vaksin Covid-19 Astrazeneca sebelum diberikan kepada warga (ilustrasi).

Foto: Antara/Umarul Faruq
Vaksin gabungan AZ dan Pfizer menghasilkan antibodi 10 kali lipat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Vaksin AstraZeneca diizinkan digunakan secara legal oleh Lembaga Medis Eropa (EMA) pada bulan Januari. Sejak saat itu, pemerintah di Berlin memutuskan pemberian vaksin bersangkutan kepada semua orang dewasa di Jerman.

Namun setelah mengetahui efek negatifnya, terutama terhadap wanita muda yang yang dapat menghadapi peningkatan risiko pembekuan darah berbahaya di otak, Komite Tetap Vaksinasi Jerman pada bulan April merekomendasikan untuk membatasi penggunaan AstraZeneca pada orang yang berusia di atas 60 tahun.

Baca Juga

Itu berarti ratusan ribu warga yang telah menerima dosis pertama AstraZeneca, selanjutnya bisa mendapatkan BioNTech-Pfizer atau Moderna untuk suntikan kedua. Warga juga bisa tetap mendapatkan dosis kedua Astr Zeneca jika dokter menyarankan atau mereka yang sudah mendapat dosis pertamam, tetap memilih tetap mendapat vaksinasi kedua dengan vaksin buatan Inggris itu.

 

Namun studi terbaru dari Inggis menunjukkan, pemberian gabungan dua vaksin yang berbeda bisa menjadi lebih dari sekadar solusi darurat. Penelitian baru di Inggris mengkonfirmasi, kombinasi vaksin AstraZeneca dan BioNTech dapat memicu respons kekebalan yang lebih kuat dibanding dua dosis AstraZeneca.

Para peneliti di Universitas Oxford menemukan, orang yang mendapat suntikan satu dosis AstraZeneca, dan empat minggu kemudian diikuti dengan satu dosis vaksin BioNTech-Pfizer mengembangkan jumlah antibodi yang lebih tinggi daripada mereka yang menerima dua suntikan AstraZeneca.

Sebagai bagian dari uji coba yang diberi titel Com-COV, para peneliti di Oxford memberikan berbagai kombinasi vaksin kepada 830 relawan berusia di atas 50 tahun. Hasilnya, para responden yang mendapat dua suntikan BioNTech, mengembangkan jumlah antibodi paling tinggi. Diikuti di peringkat berikutnya oleh mereka yang mendapatkan dosis suntikan pertama AstraZeneca dan digabung dengan suntikan dosis kedua BioNTech. Vaksinasi dengan urutan sebaliknya vaksin gabungan ini, juga menghasilkan lebih banyak antibodi dibandingkan dengan dua dosis vaksin AstraZeneca.

Peneliti utama Matthew Snape, profesor pediatrik dan vaksinologi, mengatakan kepada BBC, temuan Com-COV tidak mengurangi arti penting penggunaan dua dosis suntikan AstraZeneca dalam melawan COVID.

"Kita sudah tahu bahwa kedua standar tersebut sangat efektif mencegah munculnya penyakit parah dan risiko rawat inap, termasuk ampuh terhadap varian Delta," katanya.

Di Inggris, periode antara dua suntikan biasanya delapan hingga 12 minggu, bukan empat minggu seperti dalam studi Com-COV. Hasil dari uji coba dengan jangka waktu 12 minggu antara dosis gabungan akan dirangkum pada bulan Juli, kata Snape kepada BBC.

Gabungan vaksin lebih efektif daripada dua suntikan vaksin yang sama

Hasil riset serupa juga ditunjukkan oleh imuwan Jerman. Para peneliti di Universitas Saarland di Jerman menegaskan, mereka yang mendapat suntikan pertama AstraZeneca dan kedua BioNTech-Pfizer menunjukkan respons kekebalan yang lebih kuat daripada pasien yang menerima dua dosis vaksin yang sama, baik itu AstraZeneca atau BioNTech.

Jadi, apakah itu berarti sudah waktunya untuk mengubah pendekatan imunisasi dunia ke vaksinasi gabungan untuk semua orang?

Mungkin sekarang belum waktunya!. Karena itu baru riset awal, tanpa riset pembanding dan kajian dari para ilmuwan independen. 

sumber : DW
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA