Wednesday, 22 Safar 1443 / 29 September 2021

Wednesday, 22 Safar 1443 / 29 September 2021

WHO: Progres Penanganan Covid Terancam Varian Delta

Sabtu 31 Jul 2021 19:37 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Ilustrasi virus corona.

Ilustrasi virus corona.

Foto: Pixabay
Vaksin yang disetujui oleh WHO masih ampuh melawan virus Corona

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Dunia terancam kehilangan progres yang susah didapatkan dalam memerangi Covid-19 menyusul varian Delta yang sangat menular menyebar. Kekhawatiran itu disampaikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat (30/7).

Menurut WHO, vaksin yang disetujui oleh WHO masih ampuh melawan penyakit virus corona. "Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC) menggambarkan varian Delta sama menularnya dengan cacar air dan juga memperingatkan bahwa varian itu dapat menyebabkan penyakit parah," tulis Washington Post yang mengutip dokumen internal CDC.

Baca Juga

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, infeksi Covid-19 meningkat 80 persen selama empat bulan terakhir di sebagian besar kawasan dunia. Kematian di Afrika --yang hanya 1,5 persen populasinya sudah divaksin-- melonjak 80 persen selama periode yang sama.

"Progres yang sulit didapatkan berada dalam bahaya atau hilang, dan sistem kesehatan di banyak negara kini kewalahan," kata Tedros saat konferensi pers.

Varian Delta terdeteksi di 132 negara, sehingga mendominasi dunia."Vaksin-vaksin yang saat ini disetujui oleh WHO, semuanya memberikan perlindungan yang signifikan terhadap penyakit parah dan rawat inap dari semua varian, termasuk varian Delta," kata pakar kedaruratan senior WHO, Mike Ryan.

"Kitasedang memerangi virus yang sama, namun satu virus yang menjadi lebih cepat dan lebih baik beradaptasi untuk menular di antara kita manusia, itulah perubahannya," lanjutnya.

Kepala teknis Covid-19 WHO, Maria van Kerkhove, menyebutkan bahwa varian Delta sekitar 50 persen lebih menular ketimbang varian asli SARS-CoV-2, yang mulanya muncul di China pada akhir 2019. Sejumlah negara melaporkan lonjakan tingkat rawat inap, namun tingkat kematian yang tercatat akibat varian Delta tidak lebih tinggi.

sumber : Antara/Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA