Wednesday, 15 Safar 1443 / 22 September 2021

Wednesday, 15 Safar 1443 / 22 September 2021

Studi: Penerima Transplantasi Berisiko Tinggi Kena Covid-19

Sabtu 31 Jul 2021 06:03 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah

Penerima transplantasi berisiko tinggi kena Covid-19, termasuk yang sudah vaksinasi.

Penerima transplantasi berisiko tinggi kena Covid-19, termasuk yang sudah vaksinasi.

Foto: Pixabay
Penerima transplantasi berisiko tinggi kena Covid-19, termasuk yang sudah vaksinasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Varian delta telah menjadi varian terkuat dan tercepat yang dihadapi dunia. Bahkan, varian yang pertama kali diidentifikasi di India tersebut mampu menginfeksi orang yang sudah divaksin penuh.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) telah menyatakan bahwa breakthrough infections atau infeksi ulang bisa terjadi pada siapa saja, bahkan mereka yang sudah divaksin. Tetapi menurut studi terbaru, tingkat risiko infeksi bagi setiap orang tidak sama.

Sebuah studi yang diterbitkan 23 Juli di jurnal Transplantation mengamati infeksi Covid-19 di antara penerima transplantasi. Para peneliti menganalisis data dari sekitar 18.000 orang yang divaksinasi penuh, dan melakukan transplantasi untuk organ besar dari 17 pusat transplantasi di seluruh AS.

Peneliti menemukan ada 151 kasus breakthrough infections di antara pasien yang dianalisa. Menurut para peneliti, orang yang telah menjalani transplantasi 82 kali lebih tinggi terkena Covid-19 meski sudah divaksin penuh.

Dari kasus transplant breakthrough infections tersebut dilaporkan, 87 orang juga dirawat di rumah sakit dan 14 sisanya meninggal dunia. Artinya, orang yang melakukan transplantasi berisiko 485 kali lebih tinggi mengalami breakthrough infections dengan rawat inap dan kematian.

Penulis studi sekaligus ahli bedah transplantasi, Dorry Segev, mengatakan bahwa ini adalah studi pertama yang memberikan bukti klinis di beberapa rumah sakit bahwa penerima transplantasi kurang terlindungi oleh vaksin.

"Ini adalah pengingat klinis yang nyata bahwa pasien transplantasi tidak cukup dilindungi oleh seri vaksin standar," kata Segev seperti dilansir dari Best Life, Jumat (30/7).

Namun begitu, dia menambahkan bahwa pasien transplantasi harus tetap mendapatkan vaksin Covid-19. Karena sedikit perlindungan lebih baik daripada tidak sama sekali, dan jangan lupa untuk terus menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA