Tuesday, 3 Jumadil Awwal 1443 / 07 December 2021

Tuesday, 3 Jumadil Awwal 1443 / 07 December 2021

Senandung Sang Wali di Arafah yang Meneteskan Air Mata

Senin 19 Jul 2021 14:39 WIB

Rep: Ali Yusuf/ Red: Nashih Nashrullah

Hari Arafah punya keutamaan tidak hanya untuk jamaah haji tetapi juga umat Islam. Arafah (ilustrasi)

Hari Arafah punya keutamaan tidak hanya untuk jamaah haji tetapi juga umat Islam. Arafah (ilustrasi)

Foto: Dok Republika
Hari Arafah punya keutamaan tidak hanya untuk jamaah haji tetapi juga umat Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Hari Arafah mempunyai banyak keutamaan, antara lain adalah dikabulkannya doa. 

Bisyr Haafi berkata, "Pada waktu sore aku melihat seseorang di Padang Arafah yang menangis dengan pilunya. Dengan penuh kegelisahan sambil menangis dia membaca beberapa bait syair:

Baca Juga

سبحان من لو سجدنا بالعيون له‏* * * على شبا الشوك و المحمى من الإبر

لم نبلغ العشر من معشار نعمته‏* * * و لا العشير و لا عشرا من العشر 

"Betapa sucinya Dzat itu, Dia suci dari segala aib. Apabila kita bersujud di hadapan-Nya di atas duri dan jarum panas sekali pun tetap saja kita tidak bisa memenuhi hak nikmat-Nya walaupun sepersepuluh dari sepersepuluhnya. Bahkan satu persen dari satu persennya pun tidak bisa." Setelah itu dia melanjutkan membaca syair berikut ini: 

كم قد زللت و لم أذكرك في زللي‏* * * و أنت يا مالكي بالغيب تذكرني‏

كم أكشف الستر جهلا عند معصيتي‏* * * و أنت تلطف بي حلما و تسترني

"Wahai Dzat Yang Mahasuci, beberapa banyak aku telah tersesat dan dalam kesesatakku itu aku tidak pernah mengingat-Mu dan Engkau wahai raja aku yang selalu mengingatku secara gaib karena kebodohanku berapa kali aku telah membuka aib sendiri ketika aku bermaksiat. Dan engkau selalu berlembut kepadaku dengan menutupi kesalahanku."

Bisyr berkata, "Kemudian ia menghilang dari pandanganku." Bisyr bertanya kepada orang-orang sekitar mengenai dirinya ketika orang-orang menjawab bahwa dia adalah Abu Ubaidah Khawwash, salah seorang wali terkemuka. "Mengenai dirinya disebutkan bahwa dia selama 70 tahun tidak pernah menengadahkan wajahnya ke langit.  

Seseorang bertanya mengenai sebabnya. Dia menjawab," Aku malu kepada Dzat Yang Sangat Pemurah itu, bagaimana aku mengangkat muka aku yang hitam penuh dosa ini kearah-Nya."  

Syekh Maulana Muhammad Zakariyya Al Kandahlawi mengatakan, betapa sangat mengherankan seorang hamba yang selalu taat seperti itu sangat merendahkan dirinya. Dan dengan ibadahnya yang bagus, dia tetap sangat malu kepada Allah SWT. 

"Sebaliknya, para pendosa tidak merasa malu atas dosa-dosanya," kata Syekh Maulana Muhammad Zakariyya dalam kitab Fadhilah Haji.

"Ya Allah pada hari kiamat janganlah engkau haramkan kami dari melihat wajahmu yang suci. Dan jadikanlah kami orang yang mendapat manfaat dari keberkahan orang-orang saleh. Dan letakkanlah kami di bawah naungan nya di dunia dan akhirat." 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA