Ahad 18 Jul 2021 20:37 WIB

LSI: Masyarakat Ingin Prioritas Ekonomi Lebih dari Kesehatan

LSI merilis survei terkait ekonomi dan kesehatan di masa pandemi.

LSI: Masyarakat Ingin Prioritas Ekonomi Lebih dari Kesehatan. Foto ilustrasi:  Dua restoran di Solo ditutup sementara karena melanggar aturan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) -- ilustrasi
Foto: Republika
LSI: Masyarakat Ingin Prioritas Ekonomi Lebih dari Kesehatan. Foto ilustrasi: Dua restoran di Solo ditutup sementara karena melanggar aturan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) -- ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Lembaga Survei Indonesia (LSI) memaparkan hasil survei terkait prioritas masyarakat antara ekonomi dan kesehatan di tengah pandemi Covid-19. Hasilnya, cukup berimbang, namun di bulan Juni 2021 masyarakat lebih memprioritaskan masalah perekonomian dibandingkan kesehatan.

Pertanyaan yang diajukan ialah 'sekarang ini, menurut Ibu/Bapak sebaiknya lebih memprioritaskan pada masalah kesehatan atau ekonomi'?

Baca Juga

"Jumlah responden yang menilai sebaiknya pemerintah memprioritaskan masalah ekonomi atau kesehatan dalam pandemi cukup berimbang," ujar Direktur Eksekutif LSI Djayadi Hanan, Ahad (18/7).

Djayadi menerangkan pada periode survei Juni 2021, jumlah responden yang ingin pemerintah prioritaskan masalah ekonomi lebih besar (50,7 persen) dibanding yang ingin masalah kesehatan diprioritaskan hanya 46,2 persen. 

Di periode survei sebelumnya September 2020, jumlah yang ingin masalah kesehatan diprioritaskan lebih besar (60,5 persen) dibanding yang ingin masalah ekonomi diprioritaskan (36 persen)

Sementara itu, berdasarkan hasil rekap survei LSI, mayoritas responden menganggap Covid-19 sama-sama mengancam terhadap kesehatan (92 persen) dan ekonomi masyarakat Indonesia (95,8 persen). 

"Jumlah responden yang menilai covid-19 mengancam ekonomi lebih besar," ujarnya.

Sedangkan mayoritas responden (70,9 persen) menilai besar kemungkinan kehidupan akan lebih buruk karena dampak ekonomi dari wabah Covid-19. 

Berdasarkan hasil survei LSI .ayoritas ingin PSBB dihentikan agar ekoomi bisa berjalan (57 persen responden), sementara 39 persen responden ingin PSBB dilanjutkan agar penyebaran virus bisa diatasi. 

Jumlah responden yang ingin PSBB dihentikan selalu lebih banyak di Juli (60,6 persen responden) ingin PSBB dihentikan, dan di September 2020 ada 54 persen responden.

Berdasarkan hasil sigi LSI keadaan Ekonomi Nasional Dinilai Sedang Buruk Ada 56,5 persen responden yang menilai keadaan ekonomi nasional secara umum saat ini buruk. 

"Jumlah tersebut meningkat dibanding periode Januari 2021 di mana hanya 42,4 persen responden yang menilai buruk," tambahnya.

Akan tetapi, jumlah itu belum setinggi penilaian  pada Mei 2020 yang saat itu 81 persen responden menilai keadaan ekonomi buruk. 

Mayoritas responden (69 persen) mengalami penurunan pendapatan rumah tangga sejak imbauan bekerja dan belajar dari rumah. Dari jumlah tersebut, 74,9% di antaranya menilai penurunannya dalam jumlah banyak jika dibandingkan sebelum Covid-19.

Sebagai informasi, survei LSI dilakukan pada 20 hingga 25 Juni 2021 dengan melibatkan sekitar 1.200 responden. Dengan asumsi metode simple random sampling, memiliki toleransi kesalahan (margin of error atau MoE) sekitar ±2.88 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.  Sampel ini berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement