Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

6 Faktor Penyebab Sulitnya Ekonomi Madinah Era Awal Islam

Sabtu 17 Jul 2021 18:36 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nashih Nashrullah

Kemiskinan terjadi di Madinah era awal Islam karena sejumlah faktor. Kebun kurma di Madinah, Arab Saudi

Kemiskinan terjadi di Madinah era awal Islam karena sejumlah faktor. Kebun kurma di Madinah, Arab Saudi

Foto: ROL/Sadly Rachman
Kemiskinan terjadi di Madinah era awal Islam karena sejumlah faktor

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Tidak perlu heran mengapa pada zaman di mana Nabi Muhammad SAW masih hidup, saat awal era Islam, kemiskinan masih ada.

Ini karena ada beberapa faktor yang melandasinya. Jadi jangan heran pula mengapa ada kemiskinan pada zaman sekarang, karena faktor-faktor kemiskinan tersebut juga pernah terjadi pada masa Rasulullah.

Baca Juga

Lantas mengapa di zaman Nabi SAW ada kemiskinan? Berikut ini fakta dan penjelasan sebagaimana dilansir dari laman Alukah. 

1. Tidak ada sungai untuk pengairan sawah 

Kota Madinah adalah daerah agraris, dan budidayanya yang ditanam adalah pohon palem. Untuk mengairi area pertaniannya, harus dipikul sendiri, baik oleh tenaga manusia ataupun unta, sehingga ini menjadi sulit.

Tidak ada sungai yang mengairi pertanian seperti di daerah-daerah pertanian lainnya. Ladang pertanian terbatas, dan tenaga kerja yang dibutuhkan terbilang sedikit karena budidaya pertama adalah pohon palem, yang memiliki musim terbatas. 

2. Banyak pendatang/imigran 

Madinah menerima banyak pendatang atau orang-orang yang berimigrasi datang ke Madinah. Sehingga, setiap kedatangan membutuhkan dua hal yang lengkap, yaitu tempat tinggal untuk dirinya dan keluarganya, dan kedua adalah sumber penghidupan untuk mereka.

Sakingnya banyaknya yang datang ke Madinah, Rasulullah SAW sampai pernah menyuruh mereka kembali ke daerah asalnya. Ini sebagaimana riwayat yang mengisahkan datangnya kabilah Muzainah berjumlah 400 orang, yang kemudian diperintahkan pulang ke asalnya.

Rasulullah SAW menyadari, Madinah tidak mampu menerima para imigran dalam jumlah yang besar, dan mengingat kondisi ekonomi yang ada saat itu. Maka Nabi SAW bermaksud untuk tetap menjaga kebertahanan kota Madinah kala itu.

3. Banyak imigran yang menganggur

Kalangan pendatang di Madinah sebagian besar adalah berasal dari Bani Quraisy yang tidak menguasai apapun kecuali berdagang. Tidak ada seorang pun dari mereka yang pandai pada selain perdagangan. Ini karena sebelumnya terdapat banyak perbudakan.

Dampaknya, banyak pendatang di Madinah yang menganggur, setidaknya untuk jangka waktu tertentu, sampai mereka mengenal kondisi Madinah. Namun Madinah tidak dapat menampung jumlah pedagang yang besar saat itu.

4. Peperangan

Di zaman Nabi Muhammad SAW, kehidupan di kota Madinah sebagian besarnya berkutat pada peperangan. Peperangan seperti jamak diketahui menguras ekonomi dan membutuhkan harta kekayaan. Punya pasukan, tetapi tidak ada uang untuk mempersiapkan mereka mencapai medan pertempuran.

5. Terputusnya hubungan dagang Makkah-Madinah

Madinah dan Makkah sebetulnya punya hubungan dagang yang kuat. Namun transaksi perdagangan antarkedua wilayah itu berhenti setelah hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Hingga akhirnya memengaruhi aktivitas ekonomi.

6. Harta yang ditinggalkan di Makkah

Saat hijrah dari Makkah ke Madinah, kalangan Muhajirin meninggalkan harta mereka di Makkah sehingga sebagian besar harta mereka ada di sana. Tidak mungkin juga membawa kembali semua harta itu, karena kelompok kafir Quraisy siap mencegah mereka berhijrah bersama Rasulullah.

 

Sumber: alukah 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA