Friday, 16 Rabiul Awwal 1443 / 22 October 2021

Friday, 16 Rabiul Awwal 1443 / 22 October 2021

Epidemiolog Nilai Pandemi Saat Ini Masuki Fase Ekstrem

Sabtu 17 Jul 2021 00:23 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Andri Saubani

Polisi Lalu Lintas mengecek dokumen perjalanan kendaraan saat penyekatan kendaraan di pintu exit Tol Kandeman, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Jumat (16/7/2021). Polda Jawa Tengah memberlakukan penutupan 27 pintu keluar tol di wilayah Jawa Tengah dengan melakukan putar balik dan penyekatan kendaraan yang tidak dilengkapi dokumen perjalanan kendaraan non esensial dan non kritikal guna membatasi mobilitas masyarakat dalam mencegah laju penyebaran COVID-19.

Polisi Lalu Lintas mengecek dokumen perjalanan kendaraan saat penyekatan kendaraan di pintu exit Tol Kandeman, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Jumat (16/7/2021). Polda Jawa Tengah memberlakukan penutupan 27 pintu keluar tol di wilayah Jawa Tengah dengan melakukan putar balik dan penyekatan kendaraan yang tidak dilengkapi dokumen perjalanan kendaraan non esensial dan non kritikal guna membatasi mobilitas masyarakat dalam mencegah laju penyebaran COVID-19.

Foto: Antara/Harviyan Perdana Putra
Pertambahan kasus harian Covid di Indonesia duduki posisi tertinggi selama sepekan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Guru Besar Epidemiologi Unhas Ridwan Amiruddin mengkritisi upaya penanganan Covid-19 di Tanah Air. Ia bahkan menilai pandemi kini memasuki fase ekstrem.

Ridwan mengklaim pertambahan kasus harian Covid-19 di Indonesia menduduki posisi tertinggi secara global selama sepekan. Dari data per 15 Juli 21, sebanyak 56.757 kasus baru dengan kasus aktif 17,6 persen (480.199). Angka kematian 2.7 persen (70.192). Adapun positivity rate di angka 30 persen.

"Dari gambaran ini memberikan insight kepada kita semua bahwa sekarang penanganan pandemik Covid-19 memasuki fase ekstrim," kata Ridwan kepada Republika, Jumat (16/7).

Ridwan menyinggung kondisi penanganan Covid-19 saat ini cenderung tak optimal. Oleh karena itu ia menuntut adanya solusi terbaru dari pemerintah.

"Ini adalah bukti ketidakberdayaan sistem kesehatan mengelola pandemi Covid-19," sebut Ridwan.

Ridwan menjelaskan, situasi terburuk pada level pandemik ditandai dengan epidemi tidak terkendali serta respons yang terbatas. Ia menyarankan, agar menghentikan transmisi secara geografis sesingkat mungkin.

"Setiap individu harus tinggal di rumah, membatasi kontak sosial di luar rumah. Sektor esensial tetap menjaga suplai logistik warga dan bisnis sekunder harus tutup," ujar Ridwan.

Hasil estimasi health data.org menunjukkan jumlah orang Indonesia yang sudah terpapar Covid-19 sekitar 18 persen (Juni 2021). Dengan reproduksi kasus R 1.38. Sementara angka penemuan kasus hanya sekira 6% persen. Dengan varian baru B1.617.2 sebagai determinant utama penyebaran.

"Harus diambil langkah sistematis. Sebelum semuanya sudah terlambat," ucap Ridwan.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA