Kamis 15 Jul 2021 19:05 WIB

Presiden Kuba Akui Kegagalan Pemerintah Picu Demonstrasi

Presiden meminta demonstran untuk tidak bertindak atas dasar kebencian.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Teguh Firmansyah
Ribuan warga Kuba turun ke jalan dan menggelar demonstrasi menentang krisis ekonomi pada Ahad (11/7).
Foto: EPA/Ernesto Mastrascusa
Ribuan warga Kuba turun ke jalan dan menggelar demonstrasi menentang krisis ekonomi pada Ahad (11/7).

REPUBLIKA.CO.ID, HAVANA -- Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel untuk pertama kalinya mengakui kekurangan pemerintah dalam menangani beragam persoalan memicu protes baru-baru ini. Dia juga meminta warga Kuba untuk tidak bertindak dengan kebencian, merujuk pada kekerasan yang terjadi di beberapa demonstrasi jalanan.

Diaz-Canel mengatakan bahwa kegagalan oleh negara memainkan peran dalam kerusuhan tersebut. "Kami harus mendapatkan pengalaman dari gangguan-gangguan itu," katanya dalam pidato di televisi pada Rabu (14/7).

Baca Juga

"Kami juga harus melakukan analisis kritis terhadap masalah kami untuk bertindak dan mengatasi, dan menghindari pengulangannya," ujar Diaz-Canel.

Selama ini pemerintah Kuba hanya menyalahkan media sosial dan pemerintah Amerika Serikat (AS) atas protes yang terbesar  di Kuba sejak seperempat abad yang lalu. Ketika itu Presiden Fidel Castro secara pribadi turun ke jalan untuk menenangkan ribuan orang yang marah  akibat krisis mengerikan setelah runtuhnya Uni Soviet.

Dalam protes terbaru, banyak warga Kuba menyatakan kemarahannya atas antrean panjang dan kekurangan makanan dan obat-obatan, serta pemadaman listrik berulang kali. Beberapa menuntut vaksinasi yang lebih cepat terhadap virus Corona.

Sementara itu, polisi bergerak masuk dan menangkap puluhan pengunjuk rasa, terkadang dengan kekerasan. Pemerintah menuduh pengunjuk rasa menjarah dan merusak toko. Protes yang lebih kecil berlanjut pada Senin (12/7) dan para pejabat melaporkan setidaknya satu kematian. Tidak ada insiden yang dilaporkan pada Rabu.

"Masyarakat kita bukanlah masyarakat yang menghasilkan kebencian dan orang-orang itu bertindak dengan kebencian. Perasaan orang Kuba adalah perasaan solidaritas dan orang-orang ini melakukan aksi bersenjata ini, dengan vandalisme… meneriakkan kematian… berencana menyerang tempat-tempat umum, merusak, merampok, melempari batu," kata Diaz-Canel.

Diaz-Canel mengatakan bahwa kondisi saat ini begitu kompleks sehingga dimanfaatkan oleh kelompok yang tidak benar-benar ingin revolusi Kuba berkembang atau hubungan beradab dengan AS.

Pihak berwenang tidak melaporkan jumlah orang yang ditangkap, Kolonel Moraima Bravet dari Kementerian Dalam Negeri mengatakan mereka kebanyakan berusia antara 25 dan 37 tahun. Mereka akan dituntut kejahatan seperti gangguan publik, penyerangan, penghinaan, perampokan, atau kerusakan.

Kuba mengalami krisis terburuk dalam beberapa tahun akibat kombinasi pandemi virus Corona yang melumpuhkan ekonominya. Kondisi ini berdampak pada industri pariwisata yang vital, inefisiensi dalam ekonomi yang dikelola negara, ditambah  pengetatan sanksi AS di pulau itu. Pemerintahan Presiden Donald Trump memberlakukan lebih dari 200 tekanan terhadap pulau itu dalam empat tahun.

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement