Friday, 26 Syawwal 1443 / 27 May 2022

Kasus Positif Covid-19 di Sydney Tetap Melonjak

Senin 12 Jul 2021 14:26 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Christiyaningsih

Suasana jalanan yang sepi di kawasan pusat bisnis Sydney, Australia, Selasa (29/6). Lebih dari lima juta orang di Sydney dan sekitarnya telah memberlakukan lockdown selama 14 hari untuk mengurangi penyebaran wabah virus Covid-19.

Suasana jalanan yang sepi di kawasan pusat bisnis Sydney, Australia, Selasa (29/6). Lebih dari lima juta orang di Sydney dan sekitarnya telah memberlakukan lockdown selama 14 hari untuk mengurangi penyebaran wabah virus Covid-19.

Foto: AAP
Jumlah infeksi di Sydney masih naik tajam meski pemerintah sudah terapkan lockdown

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY -- Pihak berwenang kesehatan Australia melaporkan angka kasus infeksi harian Covid-19 di Sydney tetap melonjak tajam. Jumlah infeksi masih naik tajam meski pemerintah sudah menerapkan karantina wilayah atau lockdown di kota terbesar di Negeri Kangguru tersebut.

Pada Senin (12/7) Negara Bagian New South Wales (NSW) melaporkan 112 kasus infeksi baru yang sebagian besar terjadi di Sydney. Kasus positif sudah mencetak rekor setidaknya selama tiga hari.

Baca Juga

Namun muncul secercah harapan ketika jumlah kasus infeksi baru di luar kota itu pada Ahad (11/7) kemarin menurun dari 45 menjadi 34. Perdana Menteri NSW Gladys Berejiklian mengatakan perkembangan beberapa hari ke depan akan menentukan apakah karantina wilayah di Sydney yang berakhir Jumat (16/7) mendatang dilanjutkan atau tidak.

"Angka yang kami perlukan adalah angka yang paling mendekati nol, itu semua tergantung pada kita. Pakar kesehatan sudah memberi saran berdasarkan angka-angka tersebut, tidak bisa lebih jelas dari itu," kata Berejiklian dalam pidatonya yang disiarkan televisi.

Berejiklian mengatakan mayoritas kasus Senin ini terjadi pada anggota keluarga atau teman dekat orang-orang yang terinfeksi. Ia meminta masyarakat untuk mematuhi peraturan karantina wilayah yang sudah berlaku selama tiga pekan.

Peraturan itu menutup sekolah-sekolah dan melarang pertemuan lebih dari dua orang. Masyarakat juga diminta untuk tidak meninggalkan rumah kecuali untuk keperluan yang sangat penting termasuk bekerja atau belanja kebutuhan pokok.

Sebelumnya Australia dianggap sudah berhasil menghilangkan wabah virus corona melalui penutupan perbatasan, pelacakan orang yang terinfeksi. dan peraturan pembatasan sosial yang ketat. Sejak awal pandemi Negeri Kangguru hanya melaporkan sekitar 31.200 kasus infeksi dan 911 kasus kematian.

Kondisi Australia itu jauh lebih baik dibandingkan negara perekonomian maju lainnya. Namun varian Delta menyebar dengan cepat di Sydney.

Sejak pertengahan bulan Juni, Australia sudah mendeteksi hampir 700 kasus varian Delta. Pemerintah mengatakan 63 orang dirawat di rumah sakit dan 18 di antaranya di unit gawat darurat.  

Sementara seorang perempuan berusia 90 tahun menjadi pasien Covid-19 pertama yang meninggal dunia tahun ini. Wabah di Sydney membuat lambatnya program vaksinasi Australia disorot.

Hanya 11 persen dari 20,5 juta orang dewasa negara itu yang sudah menerima dua dosis vaksin. Kritikus mengatakan lambatnya program vaksinasi disebabkan saran ke masyarakat yang membingungkan serta kurangnya pasokan vaksin.

Pedoman kesehatan pemerintah federal merekomendasikan vaksin AstraZeneca yang diproduksi di dalam negeri hanya boleh diberikan pada orang berusia di atas 60 tahun. Alasannya karena adanya risiko pembekuaan darah.

Sementara pasokan vaksin impor Pfizer yang diberikan untuk orang berusia 40 sampai 60 tahun cukup terbatas. Pemerintah NSW mengatakan pusat vaksinasi dan apotek negara bagian itu diizinkan memberikan vaksin AstraZeneca ke siapa pun yang berusia di atas 40 tahun.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA