Psikiater UGM: Dukungan Sosial Diperlukan Pasien COVID-19

Red: Ratna Puspita

Psikiater dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Ronny Tri Wirasto menyebut dukungan sosial sangat diperlukan dalam kondisi pandemi COVID-19, khususnya bagi pasien COVID-19 yang menjalani isolasi mandiri atau isoman. (Foto: Ilustrasi warga memberikan paket makanan untuk warga yang sedang menjalani isolasi mandiri)
Psikiater dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Ronny Tri Wirasto menyebut dukungan sosial sangat diperlukan dalam kondisi pandemi COVID-19, khususnya bagi pasien COVID-19 yang menjalani isolasi mandiri atau isoman. (Foto: Ilustrasi warga memberikan paket makanan untuk warga yang sedang menjalani isolasi mandiri) | Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Psikiater dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Ronny Tri Wirasto menyebut dukungan sosial sangat diperlukan dalam kondisi pandemi COVID-19, khususnya bagi pasien COVID-19 yang menjalani isolasi mandiri atau isoman. "Perlu ada dukungan sosial atau masyarakat dan ini perlu ditingkatkan," kata Ronny Tri Wirasto melalui keterangan tertulis di Yogyakarta, Sabtu (10/7).

Dukungan dari keluarga terdekat maupun masyarakat, menurut dia, dapat mengurai masalah atau stressor saat isoman. Dukungan dari masyarakat juga diperlukan untuk memberikan jaminan terhadap pemenuhan kebutuhan dasar saat menjalani isoman.

Ia mengimbau bagi yang menjalani isoman tidak ragu melakukan konsultasi dengan dokter atau petugas kesehatan terkait keluhan yang dirasakan. Dengan begitu, jika ada perubahan derajat gejala bisa segera terdeteksi atau tertangani.

Ronny menyebut rasa cemas, khawatir, serta ketakutan tak dimungkiri sering muncul saat isolasi mandiri. Kondisi tersebut merupakan hal yang umum terjadi, tapi jangan dibiarkan begitu saja untuk menjaga kondisi mental agar tetap sehat.

Baca Juga

Menurut dia, isoman merupakan sebuah kondisi yang menimbulkan gap, baik secara fisik, emosi, maupun finansial. Gap tersebut berpotensi memunculkan sejumlah persoalan.

Secara umum, permasalahan yang kerap terjadi saat isoman adalah ketakutan menghadapi penyakit itu sendiri, ketakutan saat isoman, serta kebosanan serta frustrasi. Sebab itu, menurut dia, pasien COVID-19 juga perlu membatasi menonton, membaca, atau mendengar berita maupun cerita baru terkait COVID-19, termasuk melalui media sosial. 

"Pembatasan bisa berupa waktu, jumlah, topik atau sumbernya. Atur waktu dalam pembatasan ini," kata dia.

Cara lain, lanjut dia, adalah dengan melakukan perawatan tubuh secara optimal mulai dari kebersihan hingga aktivitas fisik. Beberapa tambahan aktivitas fisik yang dapat dilakukan, seperti melakukan latihan bernafas dalam, peregangan, atau meditasi yang terarah.

Selain itu, mengatur makanan dengan pola seimbang serta melakukan olahraga ringan secara teratur. "Hindari konsumsi alkohol dan rokok," imbuhnya.

Tak kalah penting, lanjutnya, tetap terhubung dengan orang lain, baik keluarga, kerabat, maupun teman. Selalu berkomunikasi untuk membagi kondisi dan perasaan saat ini. Komunikasi dapat dilakukan melalui sosial media, daring maupun via telepon.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Terkait


Depok Buat Panduan Isoman OTG Covid-19

Tragedi Pandemi: RS Penuh, Banyak Pasien Isoman Meninggal

Rusun Pasar Rumput Jadi Tempat Isolasi Mandiri Pasien Covid

RSHS Bandung Kehabisan Stok Obat Actemra untuk Pasien Covid

Menag Ajak Masyarakat Doakan yang Wafat Akibat Covid-19

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan DIY, Jawa Tengah & Jawa Timur. Jalan Perahu nomor 4 Kotabaru, Yogyakarta

Phone: +6274566028 (redaksi), +6274544972 (iklan & sirkulasi) , +6274541582 (fax),+628133426333 (layanan pelanggan)

yogya@republika.co.id

Ikuti

× Image
Light Dark