Saturday, 27 Syawwal 1443 / 28 May 2022

Penjelasan Alquran Agar Setan Pergi dari Hati Manusia

Jumat 09 Jul 2021 06:10 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Ani Nursalikah

Penjelasan Alquran Agar Setan Pergi dari Hati Manusia

Penjelasan Alquran Agar Setan Pergi dari Hati Manusia

Foto: dok. Republika
Kebanyakan godaan yang dilancarkan setan itu melalui bisikan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alquran menjelaskan setan kerap menggoda untuk mencelakakan manusia di dunia dan akhirat. Di dalam Alquran dijelaskan setan akan pergi dari hati manusia bila hati manusia ingat kepada Allah SWT.

Ingat kepada Allah SWT artinya ingat, taat dan menjalankan perintah Allah SWT, yakni menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam Surat An-Nas ayat keempat dijelaskan agar manusia berlindung kepada Allah SWT dari bisikan setan yang bersembunyi.

Baca Juga

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ

"Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi." (QS An-Nas).

Tafsir Jalalain menjelaskan ayat ini, setan dalam ayat ini dinamakan bisikan karena kebanyakan godaan yang dilancarkan setan itu melalui bisikan (yang biasa bersembunyi). Karena setan suka bersembunyi dan setan meninggalkan hati manusia jika hati manusia ingat kepada Allah SWT.

Tafsir Kementerian Agama menjelaskan maksud dari ayat keempat Surah An-Nas adalah, "Aku berlindung kepada-Nya dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi pada diri manusia dan selalu bersamanya layaknya darah yang mengalir di dalam tubuhnya."

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan manusia agar berlindung kepada Allah Rabbul-'Alamin dari kejahatan bisikan setan yang senantiasa bersembunyi di dalam hati manusia. Bisikan dan was-was yang berasal dari godaan setan itu bila dihadapkan kepada akal yang sehat pasti kalah dan orang yang tergoda menjadi sadar kembali, karena semua bisikan dan was-was setan yang akan menyakiti manusia itu akan menjadi hampa bila jiwa sadar kembali kepada perintah-perintah agama. 

Begitu pula bila seorang menggoda temannya yang lain untuk melakukan suatu kejahatan, tetapi temannya itu berpegang kuat dengan perintah-perintah agama. Niscaya akan berhenti menggoda dan merasa kecewa karena godaannya itu tidak berhasil, namun ia tetap menunggu kesempatan yang lain. (Tafsir Kementerian Agama)

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA