Tuesday, 8 Rabiul Awwal 1444 / 04 October 2022

Kisah Pilu Para Lansia yang Meninggal karena Gelombang Panas

Jumat 02 Jul 2021 15:08 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Christiyaningsih

Pengunjung membasuh kepalanya dengan air saat terjadi gelombang panas di taman bermain air, Calgary, Alberta, Kanada, Rabu (30/6). Sejumlah wilayah di Kanada dilanda gelombang panas ekstrem dengan kisaran suhu mencapai 45 hingga 49 derajat celcius dalam beberapa hari. (Jeff McIntosh/The Canadian Press via AP)

Pengunjung membasuh kepalanya dengan air saat terjadi gelombang panas di taman bermain air, Calgary, Alberta, Kanada, Rabu (30/6). Sejumlah wilayah di Kanada dilanda gelombang panas ekstrem dengan kisaran suhu mencapai 45 hingga 49 derajat celcius dalam beberapa hari. (Jeff McIntosh/The Canadian Press via AP)

Foto: The Canadian Press
Banyak dari korban tewas ditemukan sendirian di rumah tanpa AC atau kipas angin

REPUBLIKA.CO.ID, SALEM - Ratusan orang diyakini meninggal dunia dalam gelombang panas yang melanda sebagian wilayah Amerika Serikat (AS) dan Kanada selama sepekan terakhir. Banyak dari korban tewas ditemukan sendirian di rumah tanpa AC atau kipas angin.

Rata-rata korban meninggal akibat gelombang panas ini adalah usia tua atau sekitar 97 tahun. Petugas Kesehatan daerah Jennifer Vines mengatakan di Multnomah County, Oregon, usia rata-rata korban adalah 67 tahun dan yang tertua adalah 97 tahun.

Baca Juga

Korban meninggal akibat gelombang panas di negara bagian Oregon pada Kamis (1/7) tercatat 79 jiwa yang sebagian besar teridentifikasi di Multnomah County. Di Kanada, kepala koroner British Columbia, Lisa Lapointe mengatakan pihaknya menerima laporan setidaknya 486 kematian mendadak dan tak terduga antara Jumat dan Rabu sore pekan ini. Biasanya, kata dia, sekitar 165 orang akan ada laporan meninggal di provinsi tersebut selama periode lima hari.

Para pejabat di beberapa wilayah seperti di Pacific Northwest dan Kanada bagian barat telah mendirikan pusat pendinginan dan mendistribusikan air kepada tunawisma. Namun demikian, ratusan orang diyakini telah meninggal dari Jumat pekan lalu hingga Selasa (29/6) pekan ini.

Lapointe mengatakan terlalu dini untuk memastikan berapa banyak kematian yang terkait dengan panas. Namun menurutnya kemungkinan besar penyebab kematian adalah panas.

Di Washington, otoritas negara bagian Washington telah menghubungkan lebih dari 20 kematian dengan panas. Namun pihak berwenang mengatakan jumlah itu kemungkinan akan meningkat.

Di Barat Laut AS, suhu di Washington dan Oregon melonjak jauh di atas 100F (38 derajat C) selama akhir pekan lalu. Portland menetapkan suhu tertinggi sepanjang masa beberapa hari berturut-turut termasuk 116F (47 derajat C) pada Ahad pekan lalu.

Di negara bagian Washington, di mana media juga melaporkan lonjakan rawat inap terkait panas, Chelan County di sebelah timur Seattle mencapai suhu 119F (48 derajat C) pada Selasa pekan ini.

Lytton, sebuah kota di British Columbia tengah, pekan ini memecahkan rekor suhu terpanas sepanjang masa Kanada tiga kali. Suhu berdiri di angka 49,6 derajat Celcius (121,28 derajat Fahrenheit) pada Selasa (29/6). Suhu tertinggi sebelumnya di Kanada, yang dikenal dengan musim dingin yang sangat dingin, adalah 45C, terjadi di Saskatchewan pada 1937.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA