Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

Jelang Lockdown, Transportasi Umum di Bangladesh Dihentikan

Senin 28 Jun 2021 17:16 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih

Seorang warga menggunakan payung saat menaiki becak di Dhaka, Bangladesh. Ilustrasi.

Seorang warga menggunakan payung saat menaiki becak di Dhaka, Bangladesh. Ilustrasi.

Foto: EPA-EFE/MONIRUL ALAM
Pengumuman lockdown membuat pekerja migran mudik ke kampung halaman dari Dhaka

REPUBLIKA.CO.ID, DHAKA -- Ribuan orang memenuhi jalan-jalan di ibu kota Bangladesh ketika pihak berwenang menghentikan hampir semua transportasi umum. Tindakan ini dilakukan sebelum karantina wilayah atau lockdown besar-besaran mulai diberlakukan untuk menekan penyebaran infeksi Covid-19.

Pengumuman lockdown membuat pekerja migran berbondong-bondong mudik ke kampung halaman mereka dari Dhaka pada Ahad (27/6). Puluhan ribu orang berdesakan di feri untuk menyeberangi sungai. Pelaksanaan aturan karantina membuat ribuan pekerja di Dhaka terpaksa berjalan kaki ke kantor mereka pada Senin (28/6) di musim panas yang terik.

Kerumunan orang berjalan kaki di jalanan utama Dhaka pada Senin pagi. Sebagian besar tempat kerja akan ditutup mulai Rabu (30/6). Becak sepeda diizinkan beroperasi pada Ahad malam. Akan tetapi tarif telah melonjak tajam.

“Saya mulai berjalan pada pukul 07.00.  Saya tidak bisa mendapatkan bus atau kendaraan lain. Saya tidak mampu naik becak,” kata Shefali Begum yang hendak pergi ke rumah putrinya di Dhaka tengah, dilansir Aljazirah.

Bangladesh melaporkan 119 kematian harian pada Ahad. Jumlah kematian harian ini adalah yang tertinggi sejak pandemi. Sementara infeksi baru rata-rata hampir 5.000 kasus selama beberapa hari terakhir.

Para pejabat menilai lonjakan kasus baru-baru terkait varian Delta yang pertama kali diidentifikasi di India. Mayoritas penduduk Bangladesh akan diperintahkan untuk tinggal di rumah mulai Kamis mendatang. Selama lockdown, hanya layanan penting dan beberapa pabrik yang berorientasi ekspor diizinkan untuk beroperasi.
 
Pembatasan kegiatan dan pergerakan diberlakukan di seluruh Bangladesh pada pertengahan April lalu ketika kasus dan kematian melonjak ke level tertinggi. Infeksi menurun pada Mei tetapi mulai meningkat lagi pada Juni sehingga pemerintah harus mengambil langkah pembatasan yang lebih keras.

Bangladesh melaporkan lebih dari 880 ribu infeksi dan sekitar 14 ribu kematian akibat Covid-19. Namun para ahli mengatakan jumlah sebenarnya bisa jauh lebih tinggi karena kemungkinan tidak dilaporkan. Lebih dari dua pertiga kasus baru virus corona di ibu kota Bangladesh adalah varian Delta.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA