Tuesday, 20 Rabiul Awwal 1443 / 26 October 2021

Tuesday, 20 Rabiul Awwal 1443 / 26 October 2021

Kematian Anak Terpapar Covid-19 karena Komorbid 

Ahad 27 Jun 2021 18:26 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah / Red: Ratna Puspita

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman Bhakti Pulungan mengatakan anak meninggal karena Covid-19 tergantung pada komorbidnya. Saat ini, kematian yang paling tinggi akibat Covid-19 pada anak adalah balita yaitu sebanyak 50 persen, dan kelompok usia 10-18 tahun yaitu 30 persen. (Ilustrasi petugas memeriksa suhu tubuh seorang anak)

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman Bhakti Pulungan mengatakan anak meninggal karena Covid-19 tergantung pada komorbidnya. Saat ini, kematian yang paling tinggi akibat Covid-19 pada anak adalah balita yaitu sebanyak 50 persen, dan kelompok usia 10-18 tahun yaitu 30 persen. (Ilustrasi petugas memeriksa suhu tubuh seorang anak)

Foto: ANTARA/Basri Marzuki
Kematian paling tinggi akibat Covid-19 pada anak adalah balita, yaitu 50 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman Bhakti Pulungan mengatakan, anak meninggal karena Covid-19 tergantung pada komorbidnya. Saat ini, kematian yang paling tinggi akibat Covid-19 pada anak adalah balita yaitu sebanyak 50 persen, dan kelompok usia 10-18 tahun yaitu 30 persen. 

"Komorbid yang ada pada anak yang berbeda, pada dewasa salah satunya malnutrisi, obesitas, kelainan bawaan, cerebral palsy, dan juga TBC," kata Aman, dalam telekonferensi bersama PB IDI dan 5 Organisasi Dokter, Ahad (27/6).

Baca Juga

Menurut Aman, komorbid pada anak ini yang kadang-kadang tidak terdeteksi. Akhirnya, komorbid pada anak memperberat kondisi mereka ketika terpapar Covid-19. Anak-anak ini pun memiliki risiko meninggal lebih tinggi. 

Ia mengatakan, angka kematian anak terpapar Covid-19 di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia karena saat ini pelayanan kesehatan mengalami kesulitan. Pasien Covid-19 yang terlalu banyak menyebabkan pelayanan kesehatan berjalan kurang optimal karena kapasitas rumah sakit yang berlebihan. 

Selain itu, kesenjangan sistem PCR antardaerah juga menyebabkan angka kematian anak tinggi. Aman menjelaskan, saat ini tes swab PCR yang dilakukan di Indonesia hanya beberapa provinsi yang sesuai dengan ketentuan WHO. 

"Jadi jangan hemat-hemat PCR termasuk pada anak. Akhirnya, kasus ini tidak terdeteksi," kata dia menambahkan. 

Ia mengingatkan, jika tidak dilakukan tes PCR pada anak sementara mereka menunjukkan gejala maka bahaya long covid akan mengancam. Sekitar empat hingga delapan bulan ke depan, anak bisa jadi akan merasa lemas, tidak bisa konsentrasi, nyeri sendiri, dan menunjukkan gejala long covid lainnya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA